Studi Ungkap Sampah Plastik Meningkat Hingga 8 Juta Ton Pada Masa Pandemi COVID-19

Ilustrasi sampah plastik (Pixels)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Arif Sodhiq - Senin, 15 November 2021 | 14:30 WIB

Sariagri - Sebuah hasil penelitian yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Science mengungkapkan bahwa sekitar 25 ribu liter sampah plastik telah mencemari Samudera di seluruh dunia.

Peneliti menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan plastik sekali di masa pandemi COVID-19. Menanggapi hal itu, Yiming Peng selaku pemimpin studi mengungkapkan bahwa hal tersebut bisa menimbulkan masalah jangka panjang bagi lingkungan laut, dikutip dari courthousenews.

Disamping itu, para peneliti juga menunjukan bahwa pandemi COVID-19 telah hasilkan lebih dari 8 juta ton sampah plastik yang berasal dari rumah sakit dan hasil belanja lewat online. Dilaporkan beberapa alat medis yang mengandung plastik juga ikut termasuk, seperti alat tes Covid, APD, masker, sarung tangan dan pelindung wajah.

Peng dan timnya juga membuat simulasi ke mana sampah itu bergerak di lautan dengan faktor sirkulasi air. Para peneliti mengungkapkan bahwa sampah plastik itu bisa berhenti di pesisir atau dasar laut dalam jangka 3 tahun kemudian.

Disamping itu, seorang profesor di Sekolah Ilmu Atmosfer Universitas Nanjing, Yanxu Zhang mengatakan bahwa plastik terkait Covid hanyalah sebagian dari masalah besar yang kita hadapi di abad ke-21. Untuk mengatasinya membutuhkan banyak renovasi teknis, transisi ekonomi dan perubahan gaya hidup.

"Kami menemukan hasil bahwa kontribusi dari limbah medis yang dihasilkan rumah sakit adalah yang terbesar dan paling mengejutkan," ujarnya.

Baca Juga: Studi Ungkap Sampah Plastik Meningkat Hingga 8 Juta Ton Pada Masa Pandemi COVID-19
Limbah Covid Makin Meningkat, Armada Pengangkut Limbah Akan Ditambah

Zhang mengatakan bahwa pembuangan peralatan pelindung pribadi dan bahan kemasan belanja online yang tepat akan sangat membantu dalam mengurangi produksi sampah plastik terkait pandemi lebih lanjut.

"Hasil kami mengungkapkan bahwa salah pengelolaan limbah medis di negara berkembang merupakan masalah lingkungan yang besar," pungkasnya.

Video Terkait