Ketika Cuaca Panas Melanda Dunia, Mulai dari Jepang hingga Eropa

Ilustrasi cuaca panas. (Foto: Unsplash)

Editor: Putri - Kamis, 30 Juni 2022 | 16:45 WIB

Sariagri - Peningkatan suhu panas melanda hampir seluruh wilayah di belahan dunia. Di Jepang, jutaan orang terancam menghadapi suhu panas yang dilaporkan terburuk sejak 150 tahun. Cuaca panas juga melanda belahan bumi utara pada bulan ini.

Rekor panas yang melanda berbagai belahan dunia meningkatkan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi pada Juli dan Agustus, bulan-bulan terpanas untuk Eropa, Amerika Utara, dan Asia.

Suhu terik adalah pengingat lain dari konsekuensi dari perubahan iklim yang disebut para ilmuwan disebabkan oleh manusia. Para ilmuwan juga setuju bahwa perubahan iklim meningkatkan keparahan gelombang panas. 

Di Jepang, ketakutan akan kekurangan listrik akibat AC yang terus dinyalakan semakin meningkat. Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida menyerukan peningkatan tenaga nuklir.

Sebagian besar pembangkit nuklir di Jepang dimatikan setelah gempa bumi dan tsunami pada 2011 yang memicu kecelakaan nuklir Fukushima.

"Situasi permintaan dan pasokan listrik diperkirakan akan menjadi yang terberat dalam tiga hari terakhir (minggu ini)," kata pejabat Kementerian Perindustrian. 

Melansir Sky News, Kamis (30/6/2022), Tokyo mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius selama lima hari berturut-turut, dengan total peristiwa panas ekstrem terburuk pada Juni sejak pencatatan dimulai pada 1875. Merkuri diperkirakan tidak akan turun hingga 30 derajat Celsius hingga minggu depan.

Sementara di negara lainnya, gelombang panas yang luar biasa nan intens menyebar dari Afrika Utara melalui Eropa menjelang titik balik matahari musim panas, memberikan suhu khas musim panas.

Di beberapa daerah Spanyol dan Prancis, suhu telah mencapai 10 derajat Celsius di atas rata-rata sepanjang tahun. Hampir seluruh Spanyol menghadapi risiko kebakaran ekstrem selama beberapa hari berturut-turut.

Kekeringan juga melanda banyak negara di Eropa. Di Italia, kekeringan terburuk dalam 70 tahun membuat air asin dari Laut Adriatik mengalir kembali ke Sungai Po, menambah kerusakan pada tanaman yang terkena gelombang panas awal musim panas.

“Jika tidak hujan dalam 10 atau 15 hari ke depan, tanaman yang belum mati akan mati,” kata Giancarlo Mantovani, direktur kelompok Reclaiming the Po yang mencoba melindungi sungai.

"Kami semakin kehilangan panen," tambahnya.

Sementara itu, di Amerika Utara, pada 15 Juni hampir sepertiga dari populasi menghadapi peringatan cuaca panas. Hal tersebut bersamaan dengan gelombang panas yang berkepanjangan pada Maret dan April di India dan Pakistan. 

Baca Juga: Ketika Cuaca Panas Melanda Dunia, Mulai dari Jepang hingga Eropa
Studi Baru Tunjukkan Dampak Buruk Cuaca Panas Ektrem terhadap Anak-anak



Panas yang ekstrem sangat mematikan, terutama bagi yang rentan akan panas. Penduduk kota rentan karena efek panas yang berasal dari bangunan yang menyerap lebih banyak panas.

Panas juga dapat memperburuk polusi udara dan mengancam ketahanan pangan. Tetapi cara untuk mengatasinya salah satunya adalah dengan mengembangkan sistem peringatan dini kesehatan panas dan rencana aksi.

Hilangnya ratusan spesies lokal telah didorong oleh peningkatan besarnya panas ekstrem, seperti halnya peristiwa kematian massal di darat dan di lautan. Sebuah makalah baru di Review of Geophysics memperingatkan bahwa kondisi panas dan kering membuat kebakaran hutan lebih sering dan lebih parah.

Video Terkait