Kisah Anak Petani Tembus Akmil, Sebelumnya 9 Kali Gagal Tes

Fadlul Rohman (Instagram @tni_angkatan_darat)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Minggu, 26 Juni 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Untuk menjadi seorang TNI, Fadhul Rohman harus berjuang keras dengan memiliki tekad yang bulat. Anak seorang petani asal Banyuwangi itu sampai gagal tes sebanyak sembilan kali.

Tak ada usaha yang tak membuahkan hasil, Sermadatar Fadlul Rohman akhirnya mampu menembus Akademi Militer (Akmil). Perjalanan Fadlul masuk Lembah Tidar, Magelang (lokasi Akmil) memang tak mudah.

"Alhamdulillah perasaan saya sangat bahagia (diterima menjadi Taruna Akmil), saya sudah 10 kali mendaftar," ujar Fadlul seperti dinukil dari video di akun resmi Youtube TNI AD, Minggu (26/6/2022).

Anak ke-8 dari sembilan bersaudara ini menceritakan, sejak kecil ia memang bercita-cita menjadi anggota TNI. Tak heran lulus dari MAN 2 Banyuwangi pada 2016, ia pun memutuskan untuk mendaftar Akmil.

Kala itu, ia mengikuti tes di Kodam V/Brawijaya. Nasib baik belum berpihak, Fadlul gagal di tingkat sub panitia daerah (Panda). Kegagalan itu sempat membuatnya ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

"Ingin kuliah, tapi karena orang tua tidak ada biaya dan saya bingung jug acara mendaftar SBM (SBMPTN), akhirnya saya mendaftar bintara TNI AD," ucap Fadlul.

Namun seperti kala mendaftar Akmil, kali ini nasib mujur juga belum menghampiri. Fadlul gagal, juga di tingkat sub panda Kodam V/Brawijaya. Tak ingin terpuruk, dirinya akhirnya bekerja sebagai asisten apoteker di salah satu apotek di Banyuwangi.

Pada 2017, tekad untuk menjadi tentara kian berkobar. Fadlul kembali mendaftar Akmil di tahun itu, tapi lagi-lagi kisah pahit terulang. Dirinya gagal di tingkat parade.

Fadlul mengulang jejak terdahulu dengan mendaftar bintara TNI AD. Untuk memperbesar peluang mencapai cita-citanya, pemuda kelahiran 10 April 1998 ini juga mendaftar Taruna AAU. Harapan itu sempat membuncah di AAU karena tes demi tes berhasil dilalui. Namun toh akhirnya gagal juga yang didapat.

"Di AAU saya gagal di kesehatan. Katanya detak jantung saya di bawah 60," ujarnya.

Tak ingin menyerah, Fadlul juga memutuskan mendaftar di bintara AU. Sama seperti sebelumnya, gagal. Namun, toh semua kegagalan itu tak membuatnya mengubur mimpi menjadi anggota TNI. Setahun berikutnya atau pada 2018, dia kembali meretas asa. Fadlul mendaftar Akmil.

Kali ini lewat Kodam Jaya, Jakarta. Ada cerita tersendiri mengapa dia akhirnya mengikuti seleksi di Ibu Kota. Pasalnya, orang tuanya yang merupakan petani sudah tidak punya biaya sehingga dirinya disarankan untuk tinggal bersama kakaknya di Jakarta.

Sang kakak ternyata seorang anggota TNI berpangkat sersan dua. Di tahun itu Fadlul selain mendaftar Akmil juga mencoba peruntungan masuk AAU. Berbagai tahapan tes dilalui hingga tingkat panda. Di situlah dirinya harus memilih, mengikuti tes untuk masuk Akmil atau AAU. Fadlul memutuskan untuk tetap masuk Akmil. Sayangnya, perjalanan panjang itu tak berujung manis.

"Saya gagal," kata dia.

Fadlul merasa putus asa? Ternyata tidak. Kegagalan demi kegagalan memacunya untuk terus mengevaluasi. Ia pun mempelajari bagaimana cara bisa lolos seleksi TNI. Selain mengasah kemampuan akademis, dia juga terus menempa fisik.

Pada 2019, Fadlul kembali mendaftar Akmil. Sama seperti sebelumnya, ia mengikuti seleksi lewat Kodam Jaya. Di tingkat sub panda, dirinya menempati rangking 1. Tes berlanjut hingga tingkat panda. Kali ini, dewi fortuna berada di pihaknya.

Perjuangan keras disertai doa selama bertahun-tahun membawa hasil membanggakan. "Di tingkat panda Alhamdulillah saya juga rangking 1 dan akhirnya lulus," ucapnya.

Perjuangan menembus Akmil tak begitu mudah, selama di Jakarta, meski dekat dengan kakaknya, Fadlul tidak tinggal bersama. Dirinya memilih hidup di salah satu masjid di kompleks perumahan Kodam Jaya di Jatiwarna, Bekasi.

Di situ dirinya menjadi takmir. Di tempat itu pula dia mengajar ngaji anak-anak kecil dan remaja. Fadlul menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan melalui remaja masjid. Di sela-sela menjadi takmir, ia terus berkonsultasi kepada kakaknya, bagaimana cara menembus tentara.

Fadlul mengaku sangat berkeinginan menjadi prajurit komando alias masuk Kopassus. Kakaknya menyarankan, untuk menjadi tentara tidak mudah. Selain fisik bagus, juga kemampuan akademik.

Karena itu Fadlul menempa jasmaninya dengan latihan lari pagi dan sore hari. "Saya tiap hari bangun jam 3 (pagi), sholat tahajud, (lanjut) sholat subuh. Lari pagi. Selama 24 jam ini waktu waktu saya sudah diatur sehingga psiko saya itu terbentuk," ucapnya.

Beruntung di perumahan itu juga terdapat mahasiswa salah satu perguruan tinggi jurusan matematika. Dari mahasiswa itu, Fadlul banyak belajar, ia tak kuasa mengungkapkan kebahagiaannya diterima di Akmil.

Bagaimana tidak, setelah sembilan kali gagal, di percobaan terakhir kalinya karena sesuai batas usia, ia akhirnya tembus ke Lembah Tidar. Lebih dari itu, motivasi terbesarnya untuk membahagiakan orang tua juga terwujud.

"Saya anak ke-8, belum bisa membahagian orang tua. Saya kalau ingat orang tua, nangis saya," kata Fadlul dengan menahan isak.

Baca Juga: Kisah Anak Petani Tembus Akmil, Sebelumnya 9 Kali Gagal Tes
Kaki Terkena Ranjau, Serda Mugiyanto Bangkit Jadi Petani Kelengkeng

Meski demikian, Fadlul bersyukur bisa di terima di TNI AD, karena kegagalan yang lalu menjadi pelajaran penting dari anak seorang petani.

"Alhamdilillah. Terima kasih TNI AD telah menerima saya," pungkas siswa Taruna yang saat ini memasuki tingkat III tersebut.

Video Terkait