Studi Baru Tunjukkan Dampak Buruk Cuaca Panas Ektrem terhadap Anak-anak

Ilustrasi panas ektrem tewaskan hewan ternak. (Pixabay)

Editor: Putri - Kamis, 16 Juni 2022 | 20:10 WIB

Sariagri - New England Journal of Medicine menerbitkan tinjauan yang menyimpulkan bahwa efek dari pembakaran bahan bakar fosil, polusi udara, cuaca buruk, kualitas air yang buruk dan panas yang ekstrem, menimbulkan risiko yang signifikan. Risiko kesehatan paling dirasakan oleh bayi dan anak-anak.

Frederica Perera, penulis utama dan direktur pendiri Pusat Kesehatan Lingkungan Anak Columbia di Universitas Columbia, mengatakan tujuan penelitian ini tidak hanya untuk menunjukkan hubungan antara ketergantungan planet ini pada bahan bakar fosil dan kesehatan anak-anak.

Tetapi juga menunjukkan solusi yang tersedia yang dapat mencegah bencana yang dipicu oleh perubahan iklim dan menempatkan orang termuda di dunia dalam bahaya.

"Kami melihat seluruh rentang efek iklim yang membuat anak-anak dilarikan ke UGD dan daftarnya terus berlanjut. Jadi saya memutuskan untuk menggabungkan semuanya," kata Perera, mengutip CNN.

"Di satu sisi, ini adalah berita buruk, kami tahu bagaimana menghadapinya. Kami tahu bagaimana menurunkan emisi. Kami dapat mengambil tindakan sekarang untuk membuat perbedaan besar, dan itulah tujuan studi tersebut."

Pada Januari, dokter anak bernama Aaron Bernstein menerbitkan sebuah penelitian yang menemukan bahwa paparan panas ekstrem meningkatkan keperluan anak untuk dilarikan ke ruang gawat darurat untuk alasan apa pun. Bahkan pada hari-hari ketika suhu tidak terpanas.

Karena krisis iklim, seorang anak yang lahir di AS hari ini akan mengalami 35 kali lebih banyak peristiwa panas ekstrem yang mengancam jiwa daripada anak yang lahir sekitar 60 tahun yang lalu, menurut penelitian Bernstein.

Para ahli mencatat selama bertahun-tahun bahwa populasi yang paling rentan terhadap efek cuaca panas ekstrem adalah anak-anak dan wanita hamil. Kedua golongan tersebut berisiko terkena heat stroke.

"Kami tahu lebih dari cukup untuk mengenali panas sebagai risiko utama bagi kesehatan anak," kata Bernstein.

"Kami memiliki bukti bahwa anak-anak berada di UGD untuk berbagai masalah saat cuaca panas; wanita hamil yang terpapar cuaca panas mengalami kelahiran yang lebih buruk; dan panas mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk belajar dan mengerjakan ujian dengan baik."

Ketika banyak negara di bagian dunia lain terus meningkatkan produksi bahan bakar fosil, hal tersebut memperburuk krisis yang semakin cepat.

Baca Juga: Studi Baru Tunjukkan Dampak Buruk Cuaca Panas Ektrem terhadap Anak-anak
Ilmuwan Peringatkan Manusia Tak Akan Selamat dari Krisis Iklim

Perera mengatakan dia berharap makalah itu akan memotivasi dokter dan penyedia layanan kesehatan. Biasanya dokter dan penyedia layanan kesehatan merupakan lebih dipercaya untuk mengambil tindakan peran yang lebih besar dalam mengadvokasi kebijakan iklim untuk melindungi anak-anak dari planet yang memanas.

"Kami mungkin memiliki sedikit waktu karena lintasan emisi dan suhu yang sangat tajam, tetapi ada banyak hal yang dapat kami lakukan untuk membantu anak-anak dan keluarga beradaptasi dengan kondisi yang sudah ada karena perubahan iklim," tandasnya.

Video Terkait