Darurat DBD di Singapura Menjadi Peringatan Perubahan Iklim bagi Dunia

Nyamuk demam berdarah. (Foto: Wikimedia Commons)

Editor: Putri - Selasa, 7 Juni 2022 | 20:10 WIB

Sariagri - Singapura sedang menghadapi darurat demam berdarah dengue (DBD). Negeri Singa ini tengah bergulat dengan wabah penyakit musiman yang datang sejak awal tahun.

Mengutip CNN, Singapura melampaui 11.000 kasus, jauh melampaui 5.258 kasus yang dilaporkan sepanjang 2021. Para ahli memperingatkan bahwa itu adalah angka yang buruk tidak hanya untuk Singapura, tetapi juga untuk seluruh dunia.

Selain itu, perubahan iklim global berarti wabah seperti itu kemungkinan akan menjadi lebih umum dan meluas di tahun-tahun mendatang.

"(Kasus) pasti meningkat lebih cepat," kata Menteri Dalam Negeri Singapura Desmond Tan di sela-sela inspeksi lingkungan untuk pemberantasan nyamuk demam berdarah.

"Ini adalah fase darurat yang mendesak dan harus kita tangani," tambahnya.

Wabah DBD di Singapura telah diperburuk oleh cuaca ekstrem baru-baru ini, kata para ahli. Masalahnya, ini bisa menjadi pertanda apa yang akan terjadi di tempat lain.

Banyak negara yang mengalami cuaca panas yang berkepanjangan dan hujan deras yang mendorong tumbuhnya nyamuk dan virus.

"Penyakit ini sekarang endemik di lebih dari 100 negara," kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan demam berdarah global pada Januari 2022, mencatat bahwa kasus telah meningkat 30 kali lipat dalam 50 tahun terakhir.

"Tidak hanya jumlah kasus yang meningkat ketika penyakit menyebar ke daerah baru tetapi wabah eksplosif sedang terjadi."

Wabah demam berdarah terburuk di Singapura dalam sejarah terjadi pada 2020. Saat itu kasus DBD tercatat hingga 35.315 kasus dan 28 kematian.

Pada 2022, Singapura sejauh ini hanya mengalami satu kematian akibat demam berdarah tetapi dengan meningkatnya jumlah kasus, pihak berwenang tidak mau mengambil risiko.

“Pada 28 Mei 2022, sekitar 11.670 kasus demam berdarah telah dilaporkan tahun ini dengan sekitar 10 persen kasus memerlukan rawat inap,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan Singapura.

Penerimaan demam berdarah di unit darurat rumah sakit meningkat karena lonjakan baru-baru ini, kata juru bicara. Tetapi tetapi 'pada tingkat yang dapat dikelola.'

Apa Itu DBD?

Mengutip situs resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, DBD adalah penyakit demam serius yang ditularkan oleh nyamuk betina Aedes aegypti yang menyerang sistem peredaran darah manusia.

Oleh karena itu, penyakit ini bisa menjadi lebih serius jika seseorang tidak mendapat penanganan yang tepat. Perawatan terlambat hanya akan memperbesar risiko dampak buruk bahkan kematian.

DBD bisa menjangkiti seseorang yang mendapat gigitan dari nyamuk betina Aedes aegypti. Nyamuk tersebut membawa virus pemicu yang berasal dari keluarga Flaviviridae, dengan empat jenis virus yang dikenal dengan serotipe (DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4).

Baca Juga: Darurat DBD di Singapura Menjadi Peringatan Perubahan Iklim bagi Dunia
5 Tanaman Ini Sangat Cocok Dirawat Saat Musim Hujan

Menurut Kementerian Kesehatan, gejala paling umum dari DBD adalah demam tinggi sepanjang hari. Suhu badan terus naik disertai beberapa rasa nyeri pada sejumlah bagian tubuh, terutama kepala dan punggung.

Dalam beberapa kasus, terdapat tanda-tanda yang muncul berupa nyeri ulu hati. Selain itu, gejala umum yang dirasakan seorang penderita DBD adalah mual dan muntah, nyeri, pembengkakan hingga muncul bintik merah di kulit.

Video Terkait