Akhir Pekan, Nilai Tukar Rupiah Kemungkinan Menguat

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Jumat, 3 Juni 2022 | 09:45 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada awal transaksi akhir pekan ini, Jumat (3/6) pagi, dibuka menguat 37 poin atau 0,26 persen menjadi Rp14.443 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp14.480 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, menyatakan nilai tukar rupiah bisa ditutup menguat terhadap dolar AS, melanjutkan pergerakan rupiah yang ditutup menguat kemarin.

“Penguatan mungkin bisa ke arah Rp14.450 per dolar AS dengan potensi resisten di kisaran Rp14.500 per dolar AS,” ujarnya.

Ariston mengungkapkan sentimen pasar pagi ini terlihat positif terhadap aset berisiko dan indeks saham Asia bergerak menguat. “Pasar memanfaatkan momentum buy on dip untuk mendapatkan peluang kenaikan di tengah aktivitas ekonomi yang sudah melonggar,” katanya.

Dari dalam negeri, Ariston menyatakan data inflasi Mei yang di bawah ekspektasi pasar untuk month to month yang artinya inflasi tidak seburuk yang dikira, bisa menopang penguatan rupiah.

“Tapi di sisi lain, isu yang melemahkan rupiah masih belum hilang. Isu inflasi dan kenaikan agresif suku bunga acuan AS bisa kembali lagi menekan rupiah,” pungkasnya.

Sementara dolar AS jatuh secara menyeluruh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), menyerahkan penguatan dalam sesi terakhir karena sentimen risiko yang lebih kuat mendorong investor untuk meraih mata uang berisiko dengan imbal hasil lebih tinggi.

Pasar saham di seluruh dunia naik pada Kamis (2/6) setelah pelemahan baru-baru ini, karena taruhan Arab Saudi dapat meningkatkan produksi minyak mentah mendinginkan harga minyak, membantu menyeimbangkan kekhawatiran atas lonjakan inflasi dan pengetatan kebijakan moneter.

"Ada beberapa faktor yang bekerja melawan greenback hari ini, tetapi sebagian besar adalah sentimen risk-on (pengambilan risiko)," kata John Doyle, wakil presiden transaksi dan perdagangan di Monex USA.

Menurut Doyle, berita bahwa Arab Saudi dapat memompa lebih banyak minyak dan laporan bahwa China akan melonggarkan beberapa pembatasan Covid membantu meningkatkan sentimen risiko, yang merugikan mata uang safe-haven.

Harga minyak sedikit berubah, menghapus kerugian yang terjadi pada Kamis pagi setelah OPEC+ setuju untuk meningkatkan produksi minyak mentah untuk mengkompensasi penurunan produksi Rusia.

Shanghai bangkit kembali pada Rabu (1/6) setelah dua bulan isolasi pahit di bawah penguncian Covid-19 yang ketat, dengan toko-toko dibuka kembali dan orang-orang kembali ke kantor, taman, dan pasar.

Indeks mata uang dolar AS, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,8 persen pada 101,78, dengan kecepatan untuk menghentikan kenaikan dua hari berturut-turut.

Baca Juga: Akhir Pekan, Nilai Tukar Rupiah Kemungkinan Menguat
Nilai Tukar Rupiah Senin Sore Anjlok Jadi Rp14.677 per Dolar AS

Dolar mendapat sedikit dukungan dari data yang menunjukkan data penggajian swasta AS meningkat jauh lebih rendah dari yang diharapkan pada Mei, yang akan menunjukkan permintaan tenaga kerja mulai melambat di tengah suku bunga yang lebih tinggi dan pengetatan kondisi keuangan, meskipun lowongan pekerjaan tetap sangat tinggi.

Mata uang berisiko, termasuk dolar Australia dan Selandia Baru, menguat terhadap mata uang AS, masing-masing naik 1,17 persen dan 1,20 persen.

Video Terkait