Rupiah Jumat Pagi Menguat Jadi Rp14.591 per Dolar AS

Ilustrasi - Pegawai menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta (Antarafoto/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa)

Editor: Yoyok - Jumat, 27 Mei 2022 | 09:45 WIB

Sariagri - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (27/5) pagi menguat 22 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.591 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.613 per dolar AS.

Sementara itu, dolar AS melemah terhadap  mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena pasar mempertimbangkan apakah Federal Reserve akan memperlambat atau bahkan menghentikan siklus pengetatan pada paruh kedua tahun ini, yang akan melemahkan daya pikat mata uang safe-haven.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, terakhir (pukul 19.00 GMT) turun 0,206 persen pada 101,84.

Mata uang mulai melemah setelah risalah dari pertemuan Fed Mei, yang dirilis Rabu (25/5), menunjukkan bahwa sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan 50 basis poin kemungkinan akan sesuai pada pertemuan kebijakan Juni dan Juli untuk memerangi inflasi yang mereka sepakati telah menjadi ancaman utama bagi kinerja perekonomian.

Banyak peserta percaya bahwa kenaikan suku bunga dengan cepat akan membuat bank sentral berada pada posisi yang baik akhir tahun ini untuk menilai dampak dari pengetatan kebijakan, risalah menunjukkan.

"Pasar menjadi sedikit lebih optimis bahwa The Fed tidak akan terlalu agresif dengan pengetatan dan bahwa beberapa aksi jual yang telah kita lihat dengan aset-aset berisiko, khususnya ekuitas, mungkin telah berlebihan," kata Ed Moya, analis pasar senior di Oanda.

"Itu mendorong sedikit reli di sini untuk aset-aset berisiko, yang sangat bagus untuk perdagangan berisiko, yang pada dasarnya buruk bagi dolar," katanya.

Indeks dolar mencapai puncak hampir dua dekade di atas 105 awal bulan ini tetapi tanda-tanda bahwa tindakan agresif Fed mungkin sudah memperlambat pertumbuhan ekonomi telah mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pengetatan, dengan imbal hasil obligasi pemerintah juga turun dari tertinggi multi-tahun.

"Meskipun itu bukan pandangan kasus dasar dari tim Ekonomi kami, kami pikir Fed mungkin membuat kasus bahwa mencapai 1,75 persen hingga 2,0 persen memberikan normalisasi kebijakan yang kemudian menawarkan kesempatan untuk berhenti sejenak dan menilai dampaknya pada pekerjaan dan inflasi," kata ahli strategi di JP Morgan dalam catatan klien.

Imbal hasil tersirat pada kontrak berjangka eurodollar Juni 2023 – pada dasarnya di mana pasar melihat suku bunga berada pada titik itu – turun sekitar 80 basis poin bulan ini.

"Dolar saat ini berada di kisaran ketat," kata Boris Schlossberg, direktur pelaksana strategi valas di BK Asset Management.

Data pada Kamis (26/5) mengkonfirmasi ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal pertama di bawah beban rekor defisit perdagangan dan laju akumulasi persediaan yang sedikit lebih lambat dibandingkan dengan kuartal keempat.

Sebuah laporan terpisah menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun pekan lalu, menandakan berlanjutnya pengetatan di pasar tenaga kerja.

Di tempat lain, euro naik 0,37 persen menjadi 1,0719 dolar, sementara dolar turun tipis 0,011 persen terhadap yen Jepang menjadi 127,155 yen.

Baca Juga: Rupiah Jumat Pagi Menguat Jadi Rp14.591 per Dolar AS
Rupiah Rabu Sore Menguat, Imbas Euforia Bunga Acuan BI Dipertahankan

Mata uang yang berkorelasi risiko beragam, dengan dolar Australia naik 0,08 persen pada 0,7093 dolar AS dan dolar Selandia Baru turun 0,08 persen pada 0,6473 dolar AS.

Sterling sempat naik ke level tertinggi tiga minggu di 1,26165 dolar AS menjelang pengumuman yang diharapkan dari Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak tentang paket tindakan untuk membantu konsumen mengatasi tagihan energi yang meningkat. Pound terakhir naik 0,1 persen pada 1,2596 dolar AS.

Video Terkait