Kemeriahan Festival Kuda Menari Menuju Warisan Budaya Dunia

Festival Sayyang Pattudduk atau atraksi pertunjukan kuda menari. (Sariagri/Rifky Junaedi)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 24 Mei 2022 | 22:30 WIB

Festival Sayyang Pattudduk atau atraksi pertunjukan kuda menari mengikuti irama tabuhan rebana di Polewali Mandar, Sulawesi Barat berlangsung meriah. Lebih dari seratusan ekor kuda ikut memeriahkan agenda wisata tahunan di Bumi Tipalayo Mandar.

Festival Sayyang Pattuduk sempat ditunda akibat pandemi COVID-19. Kali ini festival budaya lokal Mandar ini tidak hanya disaksikan wisatawan lokal tetapi juga wisatawan luar daerah hingga tim kebudayaan dari Badan Dunia Unesco.

Pemerhati budaya dan pemerintah berharap salah satu warisan budaya lokal Mandar yang tetap lestari hingga kini kelak bisa tercatat sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Sebanyak 175 ekor kuda dari seluruh kecamatan di daerah itu  ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Setiap peserta menampilkan kuda terbaik mereka dalam kegiatan tahunan yang selalu menarik perhatian warga.

Setiap kuda ditungangi dua gadis cantik atau gadis pilihan perwakilan desa masing-masing yang disebut pessawe. Tak heran jika Festival Sayyang Pattudduk kerap diidentikkan dengan festival kecantikan ala Suku Mandar.

Festival kali ini diawali dari kawasan Sport Center dan finish di Stadion HS Mengga Manding. Kuda yang membawa gadis cantik perwakilan desa dipayungi lalu diarak keliling melewati rute yang telah ditentukan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polman, Andi Masri Masdar mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pihak kementerian dan pelaku budaya agar kelak salah satu warisan budaya Mandar ini kelak bisa diterima salah satu warisan budaya dunia.

“Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencatatkan Sayyang Pattudduk sebagai salah satu warisan leluhur menjadi warisan dunia, termasuk pemerintah daerah telah berkordinasi dengan kementerian pariwisata dan para pemerhati budaya,” ujarnya.

Pemkab bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan budaya masyarakat akan tetap dijaga dan dilestarikan sehingga tidak punah atau tidak tergerus zaman.

Untuk menghindari budaya ini diklaim pihak lain, Pemkabn setempat akan mendaftarkan kegiatan budaya ini ke pihak Unesco agar dapat menjadi warisan budaya dunia.

Bupati Polman, Andi Ibrahim Masdar mengatakan segala persyaratan yang diminta Unesco agar warisna budaya nenek moyang Mandar ini diterima menjaid budaya dunia telah diupayakan dipenuhi. Dia berharap Sayyang Pattudduk kelak menjadi slaah satu warisna budaya dunia yang tetap lestari.

“Semua persyaratan yang diminta Badan Dunia agar tradiisi Sayyang Pattudduk bisa dicatat sebagai salah satu warisan budaya dunia berupaya kita penuhi. Kita berharap warisan budaya leluhur ini kelak bisa menjadi slaah satu warisna budaya dunia,” jelas Bupati Polman. 

Saiyyang Pattudduk merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang sudah menjadi tradisi turun-temurun warga Suku Mandar.

Ketua Umum Komisi Nasional Indonesia Untuk Unesco, Itje Chodijah mengapresiasi festival tahunan ini. Menurut dia, festival itu bisa menjadi nilai tambah sebelum warisan budaya lokal ini menjadi warisan budaya tak benda dunia Unesco. 

Baca Juga: Kemeriahan Festival Kuda Menari Menuju Warisan Budaya Dunia
Banyak Jenisnya, Ini Empat Kuda Terkeren di Dunia

“Bukan saja setelah sukses mendaftarkan salah satu warisan dunia bukan dari itu bagaimana caranya mempertahankan dna itu sendiri,” jelas Itje.

Sayyyang pattuduk biasanya digelar warga saat menyambut  Maulid Nabi atau acara hajatan pernikahan dan santri yang telah khatam Al Qur'an. 

Sariagri -  

Video Terkait