Studi Terbaru: Perubahan Iklim Dapat Picu Pandemi Baru

Sinar matahari di siang hari. (Pixnio)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 17 Mei 2022 | 20:50 WIB

Suhu bumi yang kian memanas memang kerap dibicarakan beberapa waktu belakangan ini, termasuk di Indonesia. Ketika iklim Bumi terus menghangat, para peneliti memperkirakan hewan liar akan dipaksa untuk merelokasi habitat mereka, kemungkinan ke daerah dengan populasi manusia yang besar. Secara dramatis meningkatkan risiko lompatan virus ke manusia yang dapat menyebabkan pandemi berikutnya.

Mengutip science daily, hubungan antara perubahan iklim dan penularan virus ini dijelaskan oleh tim peneliti internasional yang dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Georgetown dan diterbitkan 28 April di Journal Nature.

Dalam studi mereka, para ilmuwan melakukan penilaian komprehensif pertama tentang bagaimana perubahan iklim akan merestrukturisasi virom mamalia global. 

Penelitian ini berfokus pada pergeseran jangkauan geografis perjalanan yang akan dilakukan spesies saat mereka mengikuti habitat mereka ke daerah baru. Saat mereka bertemu mamalia lain untuk pertama kalinya, studi memproyeksikan mereka akan berbagi ribuan virus.

Mereka mengatakan perubahan ini membawa peluang lebih besar bagi virus seperti Ebola atau coronavirus untuk muncul di daerah baru, membuatnya lebih sulit dilacak, dan menjadi jenis hewan baru, sehingga memudahkan virus untuk melompati spesies batu loncatan ke manusia.

"Analogi terdekat sebenarnya adalah risiko yang kita lihat dalam perdagangan satwa liar," kata penulis utama studi tersebut Colin Carlson, PhD, asisten profesor peneliti di Pusat Ilmu dan Keamanan Kesehatan Global di Georgetown University Medical Center.

“Pasar ini menyatukan hewan yang tidak sehat dalam kombinasi yang tidak alami, menciptakan peluang bagi SARS melompat dari kelelawar ke musang, lalu musang ke manusia. Tetapi dalam iklim yang berubah, proses semacam itu kini terjadi di mana-mana," sambungnya.

Para peneliti juga menemukan dampak kenaikan suhu pada kelelawar, yang merupakan mayoritas penyebaran virus baru. Kemampuan mereka untuk terbang akan memungkinkan mereka melakukan perjalanan jarak jauh, dan menyebarkan virus paling banyak.

Karena peran sentral mereka dalam kemunculan virus, dampak terbesar diproyeksikan terjadi di Asia Tenggara, hotspot global keanekaragaman kelelawar.  Ketika virus mulai berpindah antar spesies inang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, para peneliti mengatakan bahwa dampaknya terhadap kesehatan manusia bisa sangat parah.   

“Pandemi Covid-19, dan penyebaran SARS, Ebola, dan Zika sebelumnya, menunjukkan bagaimana virus yang melompat dari hewan ke manusia dapat memiliki efek yang sangat besar. Untuk memprediksi loncatannya ke manusia, kita perlu mengetahui penyebarannya di antara hewan lain," kata Sam Scheiner, direktur program di National Science Foundation (NSF) AS, yang mendanai penelitian tersebut. 

Video Terkait