Nama Garut Terucap dari Orang Belanda, Gegara Semak Belukar Berduri

Alun-alun Kota Garut. (Istimewa)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 16 Mei 2022 | 17:00 WIB

Sariagri - Kota Garut dikenal memiliki jenis domba khas dan oleh-oleh dodolnya yang sangat memanjakan lidah. Siapa sangka, ternyata ada rentetan sejarah panjang yang mengiringi nama kawasan ini.

Secara geografis, Garut terletak tak jauh dari Kota Bandung yang merupakan ibu kota provinsi Jawa Barat. Karena itu, Garut memegang peranan penting sebagai penyangga dan hinterland bagi Bandung Raya.

Seperti dikutip dari laman resmi Kabupaten Garut, sejarah Garut bermula dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada 1811 oleh Daendels. Ketika itu, Limbangan dibubarkan karena produksi kopi terus merosot, hingga akhirnya menyentuh titik paling rendah, serta bupatinya yang menolak perintah untuk menanam nila (indigo).

Pada 16 Februari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang saat itu dijabat oleh Raffles, mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan di Suci. Untuk sebuah kota atau kabupaten, keberadaan Suci dinilai tidak memenuhi persyaratan karena kawasannya dinilai sangat sempit.

Lantas, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia untuk mencari tempat yang cocok untuk ibu kota kabupaten. Mulanya, panitia menemukan Cimurah yang berlokasi sekitar 3 kilometer sebelah Timur Suci (Saat ini kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Pidayeuheun).

Namun, air bersih di tempat itu sulit untuk diperoleh. Maka Cimurah pun gagal lolos menjadi ibu kota baru. Selanjutnya panitia mencari lokasi ke arah Barat Suci. Setelah menempuh kurang lebih 5 kilometer, mereka menemukan daerah yang dinilai cocok sebagai ibu kota kabupaten baru.

Selain memiliki tanah yang subur, daerah tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk. Pemandangannya pun tak kalah indah, dikelilingi beberapa gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak.

Ketika ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (Maranatha), seorang panitia tangannya tergores atau "kakarut" hingga berdarah.

Dalam rombongan panitia, seorang Belanda yang bertanya "Mengapa berdarah?". Orang yang tergores menjawab, “Tangannya kakarut”. Lantas orang Eropa tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak begitu fasih sehingga sebutannya menjadi "gagarut".

Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan "Ki Garut" dan telaganya dinamai "Ci Garut". Adapun lokasi telaga ini sekarang ditempati oleh bangunan SLTP I, SLTP II, dan SLTP IV Garut. Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah itu akhirnya dikenal dengan nama Garut.

Cetusan nama Garut direstui oleh Bupati Adipati Adiwijaya, untuk kemudian dijadikan ibu kota Kabupaten Limbangan.

Pada 15 September 1813, dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibu kota, seperti tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, masjid, dan alun-alun.

Di depan pendopo, antara alun-alun dengan pendopo terdapat Babancong yang menjadi tempat Bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya menyampaikan pidato di depan publik.

Setelah tempat-tempat tersebut selesai dibangun, Ibu Kota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut pada tahun 1821.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No. 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut, dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913. Pada saat itu, Bupati yang sedang menjabat adalah RAA Wiratanudatar (1871-1915).

Hari Jadi Garut

Dalam kesepakatan, Hari Jadi Garut ditetapkan jatuh pada 7 Mei 1913. Tanggal itu menjadi momen pergantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabuapten Garut, sekaligus saat Kota Garut mulai dibuka dan dibangun.

Namun mulai tahun 1963, Hari Jadi Garut diperingati setiap 15 September sejak 1963, mengacu pada temuan Tim Pencari Fakta Sejarah.

Pada 15 September 1813, Tim Pencari Fakta Sejarah menemukan sebuah tulisan yang tertera di jembatan Leuwidaun sebelum direnovasi. Namun keyakinan masyarakat terhadap dasar penetapan Hari Jadi Garut pun berubah.

Dalam Perda Kabupaten Garut No. 30 Tahun 2011 tentang Hari Jadi Garut, dinyatakan bahwa Hari Jadi Garut dipandang lebih tepat pada tanggal 16 Februari 1813. Penelusuran Hari Jadi Garut berpijak pada pertanyaan seputar kapan pertama kali muncul nama Garut.

Baca Juga: Nama Garut Terucap dari Orang Belanda, Gegara Semak Belukar Berduri
Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian, Warga Kampung Sawah Perbanyak Domba

Garut yang bermula dari kata “ngabaladah” yang dilontarkan saat Bupati Kabupaten Limbangan yang memerintahkan pencarian daerah baru untuk ibu kota, R. A. A. Adiwijaya dilantik pada tanggal 16 Februari 1813.

Selain itu, peletakan batu pertama saat pembangunan Jembatan Leuwidaun terjadi pada 15 September 1918. Praktis, asal mula tercetus kata “Garut” diyakini terjadi antara 16 Februari 1813 sampai 15 Maret 1918. Bisa jadi jika tak ada semak belukar yang mengenai seorang panitia, nama Garut tak akan keluar dari mulut orang Belanda kala itu.

Video Terkait