Dolar Melemah Jelang Pertemuan The Fed Besok

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Rabu, 4 Mei 2022 | 09:45 WIB

Sariagri - Dolar Amerika Serikat (AS) tergelincir terhadap sekeranjang mata uang pada penutupan transaksi Selasa (3/5) atau Rabu (4/5) pagi WIB. Dolar turun setelah investor mengevaluasi seberapa banyak Federal Reserve menaikkan suku pekan ini dan seterusnya sudah diperhitungkan.

Indeks Dolar (Indeks DXY) mencapai level tertinggi 20 tahun pekan lalu di tengah ekspektasi The Fed akan lebih agresif daripada rekan-rekan dalam hal kebijakan pengetatan, dengan inflasi berjalan pada laju tercepat dalam 40 tahun.

Tetapi investor juga mempertanyakan apakah sebagian besar sikap hawkish The Fed sudah diperhitungkan dan kenaikan dolar mungkin akan tertahan.

"Saya pikir begitu banyak kabar baik bagi Amerika yang diperhitungkan karena mungkin ada kondisi buy the rumor sell the fact," kata Marc Chandler, Chief Market Strategist Bannockburn Global Forex di New York.

The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga 50 basis poin dan mengumumkan rencana untuk mengurangi  balance sheet  9 triliun dolar AS ketika mengakhiri pertemuan dua hari pada Rabu waktu setempat atau Kamis (5/5) pagi WIB.

Trader memperkirakan suku bunga acuan The Fed naik menjadi 2,89 persen pada akhir tahun, dari 0,33 persen saat ini.

Komentar Chairman Fed Jerome Powell pada akhir pertemuan bakal ditelaah untuk setiap indikasi baru tentang apakah bank sentral akan terus menaikkan suku bunga untuk melawan kenaikan tekanan harga bahkan jika ekonomi melemah.

Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama, terakhir berada di posisi 103,43, turun 0,12 persen, setelah mencapai 103,93 pada Kamis lalu, level tertinggi sejak Desember 2002.

Data pada Selasa menunjukkan lowongan pekerjaan di Amerika meningkat ke rekor tertinggi pada Maret, karena kekurangan tenaga kerja terus berlanjut, menunjukkan pengusaha bisa terus menaikkan upah dan membantu menjaga inflasi tetap tinggi.

Rilis data ekonomi utama Amerika pekan ini adalah laporan ketenagakerjaan pemerintah untuk periode April yang diumumkan Jumat.

Dolar Aussie melonjak setelah Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 0,35 persen, kenaikan pertama dalam lebih dari satu dekade, dan menandai lebih banyak lagi yang akan datang ketika memangkas stimulus pandemi.

Aussie terakhir naik 0,60 persen menjadi 0,7094 dolar AS.

Euro menguat 0,16 persen menjadi 1,0526 dolar AS setelah jatuh ke posisi 1,0470 dolar AS pada sesi Kamis, level terendah sejak Januari 2017.

Kekhawatiran tentang inflasi, pertumbuhan dan gangguan energi sebagai akibat sanksi yang dikenakan pada Rusia setelah invasi ke Ukraina mengirim euro 14 persen lebih rendah terhadap dolar dalam tiga bulan terakhir.

Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Selasa, meminta Uni Eropa untuk bertindak atas lonjakan biaya energi, dengan mengatakan "solusi struktural" sangat diperlukan.

"Masalah keamanan energi Uni Eropa tetap genting menunjukkan bahwa euro tentu saja belum keluar dari kesulitan," kata Jane Foley, Head of FX Strategy Rabobank di London.

Sementara itu Bank Sentral Eropa mungkin perlu menaikkan suku bunga secepatnya pada Juli untuk menghentikan inflasi yang tinggi agar tidak mengakar, anggota Dewan ECB Isabel Schnabel mengatakan kepada surat kabar Jerman  Handelsblatt , Selasa.

Dolar AS juga diuntungkan dari arus safe-haven karena pembatasan Covid-19 di China memicu kekhawatiran tentang pertumbuhan global dan gangguan rantai pasokan.

Baca Juga: Dolar Melemah Jelang Pertemuan The Fed Besok
Rupiah Hari Ini Bakal Terseret Tingginya Minat Asing ke Pasar Saham

Beberapa dari 25 juta warga Shanghai diizinkan keluar dari rumah, Selasa, untuk jalan-jalan singkat dan berbelanja setelah bertahan lebih dari sebulan di bawah penguncian Covid-19, sementara ibu kota China, Beijing, fokus pada pengujian massal dan mengatakan akan menutup sekolah.

Yen bertahan tepat di atas posisi terendah 20 tahun terhadap dolar yang dicapai pada sesi Kamis, ketika Bank of Japan memperkuat komitmennya untuk mempertahankan suku bunga sangat rendah dengan berjanji akan membeli obligasi dalam jumlah tak terbatas setiap hari guna mempertahankan target imbal hasil.

Yen terakhir berada di posisi 130,19 setelah mencapai 131,24 pada sesi Kamis, terlemah sejak April 2002.

Video Terkait