Imbas Lockdown, Sekardus Mi Instan di Shanghai Dihargai Hampir Rp1 Juta

Warga Shanghai alami krisis makanan saat lockdown (cbsnews)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 18 April 2022 | 17:35 WIB

Sariagri - 25 juta penduduk Shanghai terpaksa tinggal di rumah masing-masing akibat pemberlakukan lockdown yang dilakukan pemerintah Cina. Kebijakan lockdown rencananya akan diberlakukan selama dua pekan kedepan.

Mengutip dari AFP, sejak awal pandemi dua tahun lalu, Shanghai merupakan episenter Covid-19 terbesar di China, tercatat setidaknya ada 25.000 kasus infeksi per hari.

Kini, kebijakan lockdown telah membuat publik geram lantaran kurangnya akses makanan dan obat-obatan. Tak main-main, bahkan seorang warga harus menggelontorkan uang hampir Rp1 juta untuk membeli makanan.

Seperti halnya yang dirasakan oleh seorang warga bermarga Ma. Ia mengatakan bahwa dirinya harus membayar 400 yuan atau setara Rp900 ribu untuk sekotak mi instan dan soda. "Saya hanya mencoba untuk menyediakan pasokan makanan. Saya tidak yakin berapa lama (lockdown) ini akan berlanjut," ucapnya.

Baca Juga: Imbas Lockdown, Sekardus Mi Instan di Shanghai Dihargai Hampir Rp1 Juta
Isu Lockdown Akibat COVID-19 Bikin Geger, Toko Swalayan Langsung Diserbu Warga

Sementara itu, seorang warga lainnya Frank Tsai, terjebak di apartemennya yang berada di Puxi, bagian barat Shanghai. Ia sejak awal sudah menimbun persediaan makanan untuk 4 hari kedepan, sebagaimana dianjurkan pemerintah. Akan tetapi, 7 hari kemudian, kebijakan lockdown semakin ketat yang membuatnya harus menghemat porsi makanan.

"Saya telah memikirkan makanan dan asupan makanan saya lebih dari yang pernah saya miliki dalam hidup saya," ujarnya.

Petugas kesehatan yang mengenakan Alat Pelindung Diri lengkap melakukan pengujian di dalam kompleks perumahan, di mana setiap beberapa hari penduduk mengantre untuk swab yang dipenuhi ketakutan akan hasil positif.

Video Terkait