Duh! Masyarakat Indonesia Peringkat Pertama Penyangkal Perubahan Iklim

Ilustrai - Dampak perubahan iklim. (Pixabay)

Editor: Reza P - Sabtu, 16 April 2022 | 21:30 WIB

Sariagri - Masyarakat Indonesia ialah yang paling tidak percaya bahwa perubahan iklim disebabkan oleh ulah manusia. Dengan kata lain, dari semua orang dari berbagai belahan didunia ini, orang Indonesia ialah menjadi negara yang paling tidak percaya bahwa ulah manusia menyebabkan krisis iklim itu sendiri.

YouGov-Cambridge Globalism Project 2019 melakukan survei di 23 negara menyebutkan, bahwa 18% responden asal Indonesia tidak mengakui perubahan iklim terjadi, tetapi tidak disebabkan oleh ulah manusia. jumlah itu lebih tinggi dibandingkan dengan responden dari Arab Saudi (15%) yang menempati peringkat kedua dan Amerika Serikat (13%) sebagai peringkat ketiga.

Di Indonesia banyak sekali penyangkal atau orang yang tidak merasa bahwa krisis iklim adalah masalah yang penting. karena ketidakpercayaan itulah pasti berdampak terhadap upaya - upaya perbaikan menemukan titik terang untuk kita berperan dalam konteks mitigasi maupun adaptasi krisis iklim. salah satu benang merahnya karena media menjadikan isu perubahan iklim masih sebagai isu pinggiran.

Kesadaran publik di Indonesia masih rendah untuk menyadari krisis iklim itu sebagian besar ulah manusia dan tanggung jawab manusia.

Dalam komunikasi webinar Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Indonesia kerja sama dengan Google Initiative akan dilakukan serial diskusi di 18 daerah Indonesia, yang diuraikan bahwa laporan panel antarpemerintah tentang perubahan iklim (ippc) diluncurkan Februari 2022 lalu menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim sudah terjadi dan harus segera melakukan adaptasi. Suhu bumi pasti akan bertambah melewati ambang batas 1,5 derajat celcius pada 2030, bahkan saat ini, peningkatan suhu global sudah mencapai 1,1 derajat celcius.

Baca Juga: Duh! Masyarakat Indonesia Peringkat Pertama Penyangkal Perubahan Iklim
Studi: Pemanasan Global Ancam Kota-kota Besar di Dunia

lemahnya pemahaman masyarakat terkait perubahan iklim mengingatkan pada sikap anti-sains sebagian dari kalangan Indonesia terhadap vaksin dan COVID-19. Hal ini menunjukkan masalah literasi terkait perubahan iklim, apalagi pada saat yang sama, penyebaran hoaks dan misinformasi juga meluas. Terutama baru - baru ini, melihat bahwa salah satu penyebab utama dari orang menyangkal urgensi krisis iklim  adalah gap (kesenjangan) komunikasi publik atau informasi yang mereka terima.

Gap tersebut menjelaskan bahawa krisis iklim itu sudah jadi konsensus di komunitas ilmiah, itu bukan lagi sesuatu yang diperdebatkan. Data menemukan bukti ilmiahnya sudah diatas 95%. konsensus memang terjadi. "Tapi di media, konsensus (ilmiah) itu tidak dikemukakan," katanya.

Video Terkait