Alasan Perbedaan Hilal Ramadhan 2022 Antara Muhammadiyah dan Pemerintah

Tim Rukyatul Hilal Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalteng mengamati posisi hilal 1 Syawal dengan teleskop terprogram di Menara Islamic Center, Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Antarafoto).

Editor: Tanti Malasari - Jumat, 1 April 2022 | 17:10 WIB

Sariagri - Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag Adib, mengatakan bahwa akan ada kemungkinan perbedaan hilal ramadhan 2022 awal Ramadan 1443 H, antara NU dan Muhammadiyah. Seperti yang diketahui bahwa Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1443 jatuh esok pada hari Sabtu (2/4/2022). Sementara pemerintah kemungkinan akan dimulai puasa pada 3 April 2022.

Perbedaan Hilal Ramadhan 2022 karena Metode yang Digunakan

Menurut Adib, perbedaan hilal Ramadhan 2022 ini terjadi, karena adanya perbedaan metode yang digunakan. Kedua metode tersebut adalah metode ikmanur rukyat dan metode hisab wujudul hilal.

"Potensi itu (perbedaan awal Ramadan 1443 H) ada saja. Sebelumnya, pernah juga terjadi perbedaan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah," kata Adib dalam keterangannya, Kamis (31/3/2022).

Menurut Adib, perbedaan penetapan hilal ramadhan 2022 atau awal Ramadan 1443 H terjadi karena adanya perbedaan metode yang digunakan. Kedua metode tersebut adalah metode hisab hakiki wujudul hilal dan metode ikmanur rukyat.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Sementara itu, pemerintah melalui Kemenag akan menggunakan metode hisab dan rukyat sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Ditambah lagi, kini pemerintah mulai mengadopsi kriteria baru dari Menteri Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada 2021.

Apa Perbedaan Metode Hilal Ramadhan 2022?

Lantas apa yang dimaksud dengan metode penentuan awal Ramadan dengan hisab dan hilal?

1. Metode hisab wujudul hilal

Metode penentuan awal Ramadan yang pertama adalah hisab wujudul hilal. Metode hisab ini merupakan metode penentuan awal Ramadan melalui perhitungan astronomis.

Dalam artian, metode hisab wujudul hilal menentukan hilal ramadhan 2022 tanpa melakukan pemantauan dengan mata telanjang selama memenuhi kriteria tertentu.

Mengutip laman Muhammadiyah, tiga syarat kriteria yang dimaksud tersebut di antaranya:

1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi) bulan dan matahari.

2. Ijtimak (konjungsi) bulan dan matahari terjadi sebelum terbenam matahari.

3. Pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).

Semua kriteria tersebut harus terpenuhi untuk menandakan dimulainya bulan baru. Apabila ada satu yang tidak terpenuhi maka belum masuk bulan baru.

Dengan catatan, kriteria keberadaan bulan saat matahari terbenam di atas ufuk tidak berlaku lagi bila menggunakan metode hisab hakiki kriteria ijtimak sebelum gurub (al-ijtima' qabla al-gurub).

Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kemenag Ismail Fahmi menyebut, mereka yang menggunakan metode ini sudah dapat menentukan keputusan awal Ramadan 1443 H yakni, jatuh pada 2 April 2022.

Pasalnya, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk pada hari pelaksanaan rukyat atau pemantauan. Dengan angka kisaran antara 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10,02 menit.

Contohnya, jika ijtimak terjadi sebelum matahari tenggelam maka malam itu dan esok harinya sudah dapat dikatakan sebagai bulan baru. Sebaliknya, jika ijtimak terjadi sesudah matahari terbenam maka malam itu dan esok harinya masih merupakan hari penggenap bulan.

Dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah dijelaskan, kriteria dalam metode hisab wujudul hilal dipahami berdasarkan firman Allah SWT surat Yasin ayat 39-40,

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39) لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40)

Bacaan latin: 39. Wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā 'āda kal-'urjụnil-qadīm, 40. Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥụn

Artinya: 39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. 40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

2. Metode Rukyatul Hilal

Sementara, metode rukyatul hilal yang digunakan pemerintah, didasarkan pada penglihatan dan pengamatan bulan secara langsung. Bulan yang dimaksud adalah bulan sabit muda sangat tipis pada fase awal bulan baru atau yang kemudian disebut sebagai hilal.

Pengamatan hilal dengan metode ini dilakukan pada hari ke-29 atau malam ke-30, dari bulan yang sedang berjalan. Bila malam tersebut hilal sudah terlihat maka malam itu pula sudah dimulai bulan baru.

Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat maka malam itu adalah tanggal 30 bulan yang sedang berjalan. Malam berikutnya dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal (digenapkan).

Pedoman dari penentuan hilal ramadhan 2022 dengan metode ini, didasarkan oleh NU dari firman Allah SWT surat Al Baqarah ayat 189,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Baca Juga: Alasan Perbedaan Hilal Ramadhan 2022 Antara Muhammadiyah dan Pemerintah
Kapan Hasil Hilal Ramadhan 2022? Yuk Cek Link Live Streamingnya

Artinya: "Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, 'Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji,' ..."

Untuk melihat hilal, biasanya posisi bulan harus berada dua derajat di atas matahari. Syarat lainnya adalah jarak elongasi dari matahari ke arah kanan atau kiri. Semakin lebar maka makin mudah melihat hilal langsung.

Video Terkait