Mengenal 3 Metode Penentuan Hilal Puasa 2022, Apa Saja?

Ilustrasi mesjid dan bulan ramadan (Pixabay)

Editor: Tanti Malasari - Jumat, 1 April 2022 | 15:50 WIB

Sariagri - Awal Ramadan 2022 bagi Muhammadiyah sudah dapat dipastikan akan berlangsung pada hari Sabtu, 2 April 2022. Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) yang menggunakan metode rukyatul hilal harus menunggu hasil sidang isbat penentuan hilal puasa 2022 pada Jumat, 1 April 2022 yang bertepatan dengan 29 Syakban 1443 H.

Untuk melihat hilal, biasanya posisi bulan harus berada dua derajat di atas matahari. Syarat lainnya adalah jarak elongasi dari matahari ke arah kanan atau kiri. Semakin lebar maka makin mudah melihat hilal langsung.

Peran bulan dalam penentuan hilal puasa 2022

Bulan adalah satelit alami yang dimiliki bumi. Bulan ini setiap waktunya berputar mengelilingi Bumi. Dalam perputarannya ini penampakannya bisa berubah tergantung waktu. Dimulai dari sama sekali tidak tampak, muncul bulan sabit tipis, kemudian tampak melebar, hingga membentuk lingkaran penuh atau bulan purnama.

Kemudian bulan ini pun akan kembali mengecil membentuk sabit, sabitnya semakin mengecil, hingga tidak tampak kembali. Perubahan dari penampakan bulan inilah yang menjadi acuan dalam penanggalan kalender kamariah.

Penampakan hilal atau bulan sabit yang paling tipis menjadi tanda bulan baru telah masuk. Dalam praktiknya, kerap terjadi perbedaan awal bulan terutama Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah. Hal tersebut disebabkan perbedaan kriteria teknik pelaksanaan metodenya.

Berikut adalah tiga metode penentuan hilal puasa 2022, yang dilansir dari laman Muhammadiyah.

1. Rukyatul Hilal

Rukyat adalah kegiatan penentuan hilal puasa 2022, yang mana mengamati visibilitas hilal saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan Kamariah. Dengan kata lain, rukyat hanya dilakukan manakala telah terjadi konjungsi bulan-matahari dan pada saat matahari terbenam, hilal telah berada di atas ufuk dan dalam posisi dapat terlihat.

Jika pada tanggal tersebut hilal tidak terlihat, entah faktor cuaca atau memang hilal belum tampak, maka bulan kamariah digenapkan jadi 30 hari. Metode ini biasanya dilakukan menjelang hari-hari besar umat Islam seperti awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.

Kekurangan dari rukyat ini ialah umat Islam tidak mungkin bisa membuat kalender. Metode ini tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan, karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1 atau hari ke-29. Selain itu, jangkauan rukyat sangat terbatas sehingga memaksa umat Islam untuk berbeda memulai awal bulan kamariah termasuk bulan-bulan ibadah, bahkan menyisakan problem dalam pelaksanaan puasa Arafah.

2. Imkan Rukyat

Penentuan hilal puasa 2022 selanjutnya adalah Imkan rukyat. Metode ini merupakan bagian dari metode hisab hakiki yaitu perhitungan astronomis terhadap posisi bulan pada sore hari konjungsi (ijtimak). Dalam metode ini, penanggalan berbasis peredaran bulan disebut memasuki perhitungan baru bila pada sore hari ke-29 bulan kamariah berjalan saat matahari terbenam, bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian sedemikian rupa yang memungkinkannya untuk dapat dilihat.

Namun kelemahan dalam metode ini ialah para ahli tidak sepakat dalam menentukan berapa ketinggian Bulan di atas ufuk untuk dapat dilihat. Kriteria yang baru dari Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) telah menetapkan sudut ketinggian bulan yang baru, yaitu minimal 3 derajat dan elongasi minimal 3 derajat.

Sementara di negara lain seperti Mesir sudut ketinggian hilal minimal 4 derajat, di komunitas Muslim Amerika minimal 15 derajat. Kriteria-kriteria ini hanya didasarkan pada kesepakatan belaka bukan alasan astronomis.

3. Wujudul Hilal

Dengan metode penentuan hilal puasa 2022 ini, bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 berjalan saat matahari terbenam terpenuhi tiga syarat berikut secara kumulatif, yaitu:

  1. Telah terjadi ijtimak.
  2. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam.
  3. Pada saat matahari terbenam Bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk. Menjadikan keberadaan Bulan di atas ufuk saat matahari terbenam sebagai kriteria mulainya bulan baru merupakan abstraksi dari perintah-perintah rukyat dan penggenapan bulan tiga puluh hari bila hilal tidak terlihat.
Baca Juga: Mengenal 3 Metode Penentuan Hilal Puasa 2022, Apa Saja?
101 Titik Pemantauan Hilal 2022/1443 H, yang Tersebar di Seluruh Indonesia

Penentuan hilal puasa 2022 seperti imkan rukyat ini, merupakan metode wujudul hilal yang juga bagian dari hisab hakiki. Perbedaannya adalah, wujudul hilal lebih memberikan kepastian dibandingkan dengan hisab imkan rukyat.

Jika posisi bulan sudah berada di atas ufuk pada saat terbenam matahari, seberapapun tingginya (meskipun hanya 0,1 derajat), maka esoknya adalah hari pertama bulan baru.

Video Terkait