Rukyatul Hilal, Metode yang Digunakan untuk Menentukan Awal Ramadan

Ilustrasi bulan sabit (Pixabay)

Editor: Tanti Malasari - Jumat, 1 April 2022 | 13:20 WIB

Sariagri - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan pada esok hari, Sabtu (2/4/2022). Namun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan adanya potensi perbedaan terkait kapan awal Ramadhan 2022. Ini bukan hal yang baru, sebab sebelumnya di Indonesia juga pernah mengalami perbedaan awal bulan Ramadan. Hal ini dikarenakan perbedaan dalam menggunakan metode rukyatul hilal. Lantas apa sebenarnya metode rukyatul hilal itu?

Pengertian rukyatul hilal

Pada dasarnya, ada beberapa kriteria yang digunakan masyarakat Indonesia dalam menentukan awal bulan dalam kalender hijriah. Namun yang paling sering digunakan adalah kriteria rukyatul hilal dan hisab wujudul hilal. Lantas apa pengertian dari kedua kriteria tersebut?

Kriteria rukyatul hilal

Rukyatul hilal adalah metode penentuan awal bulan pada kalender Hijriyah dengan merukyat atau mengamati hilal yang didasarkan pada penglihatan dan pengamatan bulan secara langsung.

Bulan yang dimaksud adalah bulan sabit muda sangat tipis pada fase awal bulan baru atau yang kemudian disebut sebagai hilal. Biasanya pengamatan hilal dengan metode ini, dilakukan pada hari ke-29 atau malam ke-30, dari bulan yang sedang berjalan. Bila malam tersebut hilal sudah terlihat maka malam itu pula sudah dimulai bulan baru.

Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat maka malam itu adalah tanggal 30 bulan yang sedang berjalan. Malam berikutnya dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal (digenapkan).

Pedoman dari penentuan hilal dengan metode ini digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dari firman Allah SWT surat Al Baqarah ayat 189,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Artinya: "Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, 'Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji,' ..."

Untuk melihat hilal, biasanya posisi bulan harus berada dua derajat di atas matahari. Syarat lainnya adalah jarak elongasi dari matahari ke arah kanan atau kiri. Semakin lebar maka makin mudah melihat hilal langsung.

Selain itu metode rukyatul hilal ini juga digunakan dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab.

Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari".

Metode hisab wujudul hilal

Sementara metode penentuan awal ramadan lainnya adalah hisab wujudul hilal. Metode hisab ini merupakan metode penentuan awal Ramadan melalui perhitungan astronomis.

Dalam artian, metode hisab wujudul hilal menentukan awal bulan baru tanpa melakukan pemantauan dengan mata telanjang selama memenuhi kriteria tertentu. Mengutip laman Muhammadiyah, tiga syarat kriteria yang dimaksud tersebut di antaranya:

1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi)

2. Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam

3. Pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud)

Semua kriteria tersebut harus terpenuhi untuk menandakan dimulainya bulan baru. Apabila ada satu yang tidak terpenuhi maka belum masuk bulan baru.

Dengan catatan, kriteria keberadaan bulan saat matahari terbenam di atas ufuk tidak berlaku lagi bila menggunakan metode hisab hakiki kriteria ijtimak sebelum gurub (al-ijtima' qabla al-gurub).

Contohnya, jika ijtimak terjadi sebelum matahari tenggelam maka malam itu dan esok harinya sudah dapat dikatakan sebagai bulan baru. Sebaliknya, jika ijtimak terjadi sesudah matahari terbenam maka malam itu dan esok harinya masih merupakan hari penggenap bulan.

Dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah dijelaskan, kriteria dalam metode hisab wujudul hilal dipahami berdasarkan firman Allah SWT surat Yasin ayat 39-40,

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39) لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40)

Bacaan latin: 39. Wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā 'āda kal-'urjụnil-qadīm, 40. Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥụn

Artinya: 39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. 40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Baca Juga: Rukyatul Hilal, Metode yang Digunakan untuk Menentukan Awal Ramadan
Pengertian Hilal dan Metode-metode yang Digunakan untuk Melihatnya

Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda sering kali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.

Lantas bagaimana dengan tahun ini, apakah ada perbedaan hari lagi? Mari kita tunggu sama-sama hasil sidang isbat yang dilakukan pemerintah nanti sore.

Video Terkait