Pengertian Hilal dan Metode-metode yang Digunakan untuk Melihatnya

Ilustrasi BMKG saat pantau hilal. (Antara)

Editor: Tanti Malasari - Kamis, 31 Maret 2022 | 19:40 WIB

Sariagri - Mendekati bulan ramadan, penentuan hilal adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu. Biasanya penentuan ini dilakukan untuk menentukan awal bulan Ramadan dan hari besar umat Islam lainnya. Biasanya pemerintah akan melaksanakan sidang isbat menjelang pergantian bulan, melalui peneropongan disiarkan langsung di beberapa stasiun televisi.

Pengertian hilal

Dalam bahasa Arab Hilal terbentuk dari 3 huruf asal, yaitu ha-lam-lam, sama dengan nasal terbentuknya fi’il (kata kerja) dan tashrif-nya. Hilal juga bisa diartikan sebagai bulan sabit atau bulan muda yang terlihat pada awal bulan dalam sistem kalender islam.

Sementara menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), hilal adalah fase bulan sabit setelah bulan baru. Pada saat bulan baru (new moon/ijtimak), Bulan sama sekali tidak terlihat sepanjang malam.

Fase ini hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), sebab intensitas cahaya bulan sangat redup dibanding cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis.

Penentuan ini adalah salah satu bagian dari lima fase bulan, yaitu:

1. Fase pertama dikenal sebagai bulan baru atau new moon atau ijtimak merupakan kondisi bulan tidak terlihat di sepanjang malam.
2. Kemudian fase berganti pada bulan sabit setelah bulan baru atau ada juga yang menyebutnya sebagai tanda pergantian bulan.
3. Fase ketiga bulan separuh kuartil pertama yang menghadap ke barat setelah waktu maghrib yang
4. kemudian berubah ke fase baru yaitu bulan besar.
5. Menjelang akhir bulan, tampak bulan sabit tipis yang disebut sebagai bulan tua.

Fase terakhir ini bukanlah anak bulan, tetapi bulan tua atau disebut juga sebagai bulan tersembunyi karena hanya tampak sedikit dari seluruh bagian bulan.

Metode penentuannya

Umumnya metode penentuan ini dilakukan dengan dua cara, yaitu rukyat dan hisab. Hisab adalah metode perhitungan secara matematis dan astronomis, yang ditandai dengan bertemunya posisi bulan dan matahari dalam satu garis edar, yang memunculkan bulan baru dalam penanggalan Hijriah.

Bulan baru juga bisa disebut sebagai Anak Bulan. Berdasarkan analisis perhitungan astronomis itu, Anak Bulan kemungkinan besar dapat diobservasi dan usinya 8 jam 22 menit 3 detik.

Meski awal bulan hijriyah dapat diamati melalui metode hisab, tetapi di Tanah Air penentuan awal Ramadan juga ditentukan melalui metode rukyat. Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas dengan mata telanjang atau memakai alat bantu optik seperti binokuler atau teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam.

Khusus di Indonesia, ada 82 titik pengamatan dan titik rukyat utama di Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Lantas mengapa umat Islam harus melihat hilal?

Pertanyaan ini sesuai dengan firman Allah dan sabda Nabi Muhammad SAW, yang ditegaskan dalam surat Al Baqarah 189 yang memiliki arti:

Baca Juga: Pengertian Hilal dan Metode-metode yang Digunakan untuk Melihatnya
Manfaat Kurma untuk Ibu Hamil, Jaga Kandungan Sampai Lancarkan Persalinan

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”

Selain itu Nabi Muhammad SAW, juga bersabda:

“Berpuasalah (dan berhari raya) karena melihat Hilal. Jika tidak terlihat maka genapkanlah”

Berdasarkan firman Allah dan sabda Nabi Muhammad tersebut dapat diketahui bahwa penentuan fase bulan ini sangat diperlukan dan digunakan sebagai penentu waktu datangnya bulan baru qamariyah atau awal bulan hijriyah sebagai tolak ukur waktu peribadatan umat muslim di dunia, termasuk bulan Ramadan dan syawal.

Video Terkait