Ngabuburit, Tradisi Khas Warga Indonesia yang Identik Saat Bulan Ramadan

Warga membeli makanan untuk berbuka puasa di Kampung Ramadan Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta, Rabu (13/4/2021). Selama pandemi COVID-19 pasar takjil Kampung Ramadan Jogokariyan digelar dengan tetap menjaga jarak antar penjual serta dilakukan tes cepat GeNose C19 bagi penjual. (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

Editor: Tanti Malasari - Rabu, 23 Maret 2022 | 15:30 WIB

Sariagri - Ada banyak momen yang ditunggu-tunggu ketika bulan Ramadan tiba. Selain melaksanakan ibadah puasa, salat tarawih, ada juga tradisi khas masyarakat Indonesia yang dilakukan saat bulan Ramadan, yang dinamakan ngabuburit. Istilah ini sangat sering sekali di dengar saat sore hari menjelang magrib.

Biasanya istilah ini diidentikkan dengan kegiatan berjalan-jalan sore atau hal lain sambil menunggu suara bedug magrib sebagai tanda berbuka puasa. Namun dua tahun terakhir, tradisi itu agak sulit dilakukan akibat pandemi.

Kondisi ini memaksa semua orang untuk saling menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan. Sehingga bagi sebagian orang, tradisi ini menjadi sesuatu yang dirindukan. Lantas sebenarnya dari mana asal muasal istilah ini, dan apa artinya?

Asal Muasal Kata Ngabuburit

Menjalani tradisi ini selama bertahun-tahun, membuat banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa istilah ini bukan istilah baku dalam bahasa Indonesia

Kata "ngabuburit" sendiri berasal dari dua kata bahasa Sunda. Pertama adalah ‘nga’ yang merupakan sebuah imbuhan karena adanya pengulangan awal kata. Dan ‘burit’ artinya waktu menjelang adzan maghrib, waktu sore, atau waktu senja. Istilah ini diyakini berasal dari "ngalantung ngadagoan burit" yang berarti "bersantai sambil menunggu waktu sore".

Hal ini dikarenakan kegiatan ini yang memang sering dilakukan pada sore hari menjelang jam berbuka puasa. Hal ini membuat banyak yang berpendapat bahwa morfologi kata ini berasal dari kata "burit" saja sehingga bisa diartikan secara sederhana menjadi "menunggu waktu sore".

Pada era 80an kata ini saat ramadan sering digunakan oleh para pemuda di tanah pasundan khususnya kota Bandung, di Bandung sering mengadakan acara musik dengan berjudul ngabuburit,

Tentu saja dari namanya sepertinya acara tersebut syarat akan unsur islami, entah itu dari pengisi acaranya atau penonton yang sama-sama menanti waktu berbuka.

Sejumlah catatan kecil yang mendokumentasikan istilah ini, di antaranya keterangan bahwa masyarakat Bandung, Jawa Barat, sudah terbiasa melakukan kegiatan ini di kawasan Alun-alun Bandung sejak dekade 1950-an.

Seiring dengan populernya istilah ini, kata ngabuburit kemudian menjadi banyak pula digunakan di berbagai daerah lain di Indonesia. Namun, ada pula beberapa daerah yang tetap memiliki istilah daerahnya masing-masing seperti "malengah puaso" yang berasal dari Bahasa Minang yang berarti melakukan kegiatan untuk mengalihkan rasa haus dan lapar karena berpuasa.

Namun kini, kata dari bahasa daerah itu kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia dan dicatat secara resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Baca Juga: Ngabuburit, Tradisi Khas Warga Indonesia yang Identik Saat Bulan Ramadan
Tadarus Alquran, Amalan di Bulan Ramadhan yang Sangat Dianjurkan Nabi

Apa yang Dilakukan Saat Ngabuburit?

Ada banyak kegiatan bisa dilakukan saat ngabuburit di Indonesia, diantaranya adalah mengikuti pesantren kita, berburu takjil di pasar-pasar kaget bulan Ramadan, hingga berwisata religi atau melakukan kegiatan sosial.

Seiring berkembangnya tradisi ini juga semakin memiliki variasi kegiatan modern seperti dengan pertunjukkan musik, hingga sekedar acara kumpul-kumpul bersama kerabat dan para sahabat.

Video Terkait