MotoGP Mandalika 2022 Tinggalkan Kisah Unik, Begini Sejarah Pawang Hujan

Pawang hujan Rara Isti Wulandari. (Istimewa)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 21 Maret 2022 | 13:10 WIB

Sariagri - MotoGP Mandalika 2022 meninggalkan cerita unik dengan adanya kemunculan pawang hujan. Bagaimana tidak, ia menjadi sorotan ketika jelang race tiba-tiba hujan melanda di kawasan lintasan pada Minggu (20/3/2022).

Mata dunia melihat seorang perempuan paruh baya muncul membawa mangkuk tembaga berwarna emas melakukan ritual mengusir hujan.

Sontak pawang hujan yang muncul jelang race MotoGP Mandalika menjadi perbincangan di dunia maya. Sebab, sosok pawang hujan yang bernama Rara Isti Wulandari, tanpa sungkan melakukan ritual di hadapan jutaaan pasang mata.

Baca Juga: MotoGP Mandalika 2022 Tinggalkan Kisah Unik, Begini Sejarah Pawang Hujan
Ini Lho Makna Hujan saat Perayaan Imlek



Tak beberapa lama kemudian, hujan deras yang datang perlahan hilang. Kesaktian Rara terus diperbincangkan, bagaimana sejarah pawang hujan?

View this post on Instagram

A post shared by MotoGP™ (@motogp)

Sejarah Pawang Hujan

Kekuatan supranatural tak bisa dipisahkan oleh masyarakat, dengan percaya adanya roh-roh halus. Dalam sebuah jurnal berjudul Objek-Objek Dalam Ritual Penangkal Hujan yang ditulis oleh Imaniar Yordan Christy (2017), di mana tolak hujan dipadankan dengan the art of clearing the sky atau ilmu membersihkan langit.

Mantra tolak dan panggil hujan merupakan gabungan antara mantra dan sarana teks. Sarana yang dimaksud mencakup sesajen dan rerajahan gambar yang biasanya terdiri atas huruf atau figur.

Pawang hujan merupakan sebutan untuk seseorang yang dipercaya dapat mengendalikan hujan atau cuaca. Umumnya, pawang hujan bertugas mengendalikan cuaca dengan memindahkan awan penyebab hujan.

Jasa pawang hujan biasanya digunakan untuk acara-acara besar, seperti perkawinan, konser musik, dan acara lainnya. Dalam jurnal, ritual pawang hujan dipercaya dapat menjadi alat untuk menunda turunnya hujan.

Dari ritual yang dilakukan yakni dengan puasa mutih, atau berpuasa dengan makan nasi tanpa garam dan air putih selama tiga hari. Selain itu, sebelum acara diadakan, pawang hujan akan datang ke tempat untuk memasang sepasang janur, yang diikat pada tiang yang menjadi pusat acara.

Jika acara menggunakan panggung, maka janur diikat di dua tiang panggung. Namun jika acara diadakan di gedung, pawang hujan akan mengikat sepasang janur di pintu masuk.

Selain janur, satu-satunya alat yang digunakan pawang hujan adalah sapu lidi yang dipasang terbalik. Di ujung sapu lidi ini, ditancapkan bawang merah, bawang putih, serta cabai.

Bahkan, ritual penangkal hujan juga membutuhkan sesaji berupa tumpeng. Tumpeng yang dimaksud adalah tumpeng robyong, yang disebut mengandung simbol budaya.

Dalam pelaksanaan ritual pawang hujan, dibutuhkan benda atau objek ritual yang harus disiapkan. Apabila objek tak lengkap, masyarakat percaya bahwa ritual yang dilakukan tidak akan berhasil.

Video Terkait