Perang Rusia-Ukraina Hancurkan Pemulihan Teh dan Pariwisata Sri Lanka

Ilustrasi - Perkebunan teh. (Pexels)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 8 Maret 2022 | 10:00 WIB

Sariagri - Sri Lanka menghadapi krisis utang yang semakin berat dampak dari invasi Rusia ke Ukraina. Kedua negara itu merupakan dua pasar wisata terbesar Sri Lanka. Analis memperingatkan dampak ekonomi konflik kedua negara itu telah meningkatkan kemungkinan Sri Lanka mengalami gagal bayar utang.

Melansir Financial Times, negara Asia Selatan itu selama berbulan-bulan berjuang menghadapi pemadaman listrik dan cadangan devisa yang menipis untuk mengimpor minyak dan kebutuhan pokok lainnya. Sri Lanka memiliki utang luar negeri sekitar 7 miliar dolar AS atau Rp100 triliun yang jatuh tempo pembayaran bunganya tahun ini.

Pemerintah Presiden Gotabaya Rajapaksa berharap kebangkitan pariwisata dan ekspor akan membantu Sri Lanka mengisi kembali cadangan mata uang asing untuk mengatasi krisis. Sayangnya dua pasar wisata mereka yaitu Rusia dan Ukraina saat ini sedang berperang.

Rusia dan Ukraina adalah pasar wisata terbesar pertama dan ketiga bagi wisata Sri Lanka tahun ini. Selain itu Rusia juga merupakan pasar terbesar kedua teh yang merupakan komoditas ekspor utama Sri Lanka.

Ketua Advocata Institute, Murtaza Jafferjee mengatakan gangguan perdagangan dan pariwisata ditambah lonjakan harga minyak global telah memberikan pukulan berat bagi strategi pemerintah.

“Krisis ekonomi sudah meledak mengarah ke (perang) ini,” katanya. Kondisi saat ini telah memadamkan semua harapan," kata Jafferjee.

Sri Lanka merupakan penerbit obligasi terbesar di Asia berutang sekitar 45 miliar dolar AS (Rp647 triliun) dalam jangka panjang. Pemotongan pajak dan runtuhnya pariwisata karena COVID-19, membuat Sri Lanka berisiko bergabung dengan negara-negara seperti Zambia dan Belize dalam default selama pandemi.

Kolombo memiliki kewajiban mata uang asing sebesar 1,8 miliar dolar AS yaitu
Rp25 triliun untuk Februari dan Maret serta cadangan yang dapat digunakan kurang dari 1 miliar dolar AS (Rp14 triliun) menurut perkiraan analis data bank sentral.

Dampak dari konflik adalah putaran yang tidak diinginkan, dengan pihak berwenang semakin bergantung pada wisatawan dari Rusia dan Ukraina karena lalu lintas dari India dan Eropa Barat terganggu pembatasan perjalanan COVID-19.

Menurut Otoritas Pengembangan Pariwisata Sri Lanka, sekitar 20 ribu warga Rusia dan Ukraina melakukan perjalanan ke negara itu pada Januari 2022 atau lebih dari seperempat pengunjung. 

Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Hancurkan Pemulihan Teh dan Pariwisata Sri Lanka
Mengintip Keindahan Kampung Tokyo di Bogor yang Dikelilingi Kebun Teh



Penutupam wilayah udara Ukraina membuat pelaku industri khawatir gangguan ekonomi dapat membebani kunjungan dari Rusia.

"Wisatawan Ukraina dan Rusia datang dalam jumlah signifikan karena kedatangan dari negara lain menurun," kata M Shanthikumar, yang menjalankan Asosiasi Hotel Sri Lanka.

“Ketidakhadiran mereka sekarang karena perang dapat menyebabkan kemerosotan besar lagi,” tambahnya.

Ketua Dewan Teh Sri Lanka, Jayampathy Molligoda menambahkan konflik berkepanjangan akan berdampak buruk pada perdagangan teh jika rubel melemah dan bank Rusia tidak dapat menggunakan sistem swift.

Video:

Video Terkait