Negara Penghasil Komoditas Dapat Berkah dari Sanski Ekonomi ke Rusia

Ilustrasi - Fasilitas produksi minyak Rusia di Vankorskoye, Siberia. (Antara/Reuters/Sergei Karpukhin/aa.)

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Senin, 7 Maret 2022 | 15:00 WIB

Sariagri - Invasi Rusia ke Ukraina membawa berkah bagi negara-negara penghasil komoditas, seperti China, Indonesia, Australia, dan Malaysia.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sejak Rusia menginvasi Ukrainia kemudian Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Inggris memberikan sanksi ekonomi, harga sejumlah komoditas, seperti minyak mentah, emas, gas alam, batubara, nikel mengalami kenaikan yang  tidak wajar.

Harga emas dalam hitungan bulan Maret 2022 bisa menyentuh 2,150 dolar AS per troy ounce, logam mulia Rp 1.150.000 per gram, minyak mentah tembus 100 dolar AS per barel, batubara 600 dolar AS per ton, gas alam  5,500 dolar AS, minyak CPO 7.500 ringgit Malaysia per ton, dan indeks dolar bisa tembus 105, serta bitcoin tembus 45.000 dolar AS per koin,” katanya di Jakarta, Senin (7/3).

Ibrahim menambahkan kenaikan harga komoditas juga dijadikan umpan bagi para spekulan untuk menjatuhkan negara-negara yang notabene memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan Belarusia.

Yang membuat harga komoditas mengalami kenaikan bukan di sebabkan oleh Rusia menginvasi Ukraina namun sanksi yang berlebihan di lakukan oleh AS, Uni Eropa dan Inggris terhadap Rusia dan Belarusia,” jelasnya.

Menurutnya, usai sanksi ekonomi diterapkan maka para spekulan di berbagai negara melakukan aksi beli yang tak terbatas sehingga membuat lonjakan harga komoditas yang tak wajar dan ini sebenarnya menjadi serangan telak bagi negara-negara yang memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan Belarusia.

Baca Juga: Negara Penghasil Komoditas Dapat Berkah dari Sanski Ekonomi ke Rusia
Bernilai Tinggi, Begini Proses Panen dan Pascapanen Vanili

Ibrahim memaparkan tanpa adanya ikut campur pihak ketiga harga komoditas tidak mungkin mengalami lonjakan yang signifikan. Apalagi sekutu Rusia yaitu China yang kemungkinan akan mengikuti jejak Rusia akan melakukan invasi terhadap Taiwan.  Selain itu Korea Utara juga sudah berancang-ancang untuk menginvasi Kore Selatan. Ini semua dampak AS, NATO, dan Inggris yang terlalu gegabah dalam memberikan sanksi ekonomi,” Ibrahim menjelaskan.

Ibrahim menegaskan, di samping itu dengan lonjakan harga yang terus naik, Bank Sentral Amerika atau The Fed  dalam pertemuan pada l 15 Maret 2022 kemungkinan akan menahan suku bunga sampai perang benar-benar sudah berhenti.

Video Terkait