Peneliti: Pengguna Sinovac Terima Kabar Tak Enak soal Lawan Varian Omicron

Petugas mengecek kontainer berisi vaksin COVID-19 saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/12/2020). Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Sinovac, China, tiba di tanah air untuk selanjutnya akan diproses lebih lanjut ke Bio Farma selaku BUMN produsen vaksin. (Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 24 Januari 2022 | 11:15 WIB

Sariagri - Bagi pengguna Sinovac diterpa kabar tak enak soal Omicron. Menurut satudi terbaru di penelitian University of Hong Kong dan Chinese University of Hong Kong mengungkap tiga dosis vaksin Sinovac kurang kuat melawan varian Omicron.

Dalam penelitian ini, vaksin mRNA Pfizer BioNTech lebih efektif melawan COVID-19 varian Omicron, saat menjadi booster penerima vaksin primer Sinovac.

Meski begitu, para ahli tak merinci seberapa jauh perbedaan efikasi atau keampuhan vaksin Pfizer ketimbang vaksin Sinovac sebagai booster.

Peneliti menyarankan masyarakat penerima vaksin Sinovac sesegera mungkin disuntik vaksin COVID-19 booster Pfizer. Sembari menunggu jenis vaksin COVID-19 yang lebih ampuh untuk mengatasi varian Omicron, belakangan Sinovac juga berencana membuat vaksin khusus melawan varian yang berasal dari Afrika ini.

Baca Juga: Peneliti: Pengguna Sinovac Terima Kabar Tak Enak soal Lawan Varian Omicron
Booster dari Astrazeneca Diklaim Hasilkan Antibodi Lebih Tinggi Lawan Omicron

Diketahui, vaksin Sinovac dan Sinopharm merupakan jenis vaksin COVID-19 yang paling banyak dipakai warga China. Penerima vaksin primer Sinovac juga cukup banyak di Indonesia.

Perbedaan antara vaksin Sinovac, Sinopharm, dan Pfizer adalah jenis teknologi yang dikembangkan. Vaksin Sinovac dan Sinopharm dikembangkan dengan inactivated virus atau virus yang dimatikan, sementara vaksin COVID-19 besutan Pfizer menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA).

Video Terkait