Emak-emak Korban Terdampak Erupsi Semeru Dapat Pelatihan Membatik Berbahan Daun Jati dan Kopi

Pelatihan membatik menggunakan Ecoprint. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 12 Januari 2022 | 17:25 WIB

Sariagri - Puluhan ibu-ibu petani yang menjadi korban dampak erupsi Gunung Semeru di posko pengungsian SMP Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mendapat pelatihan membatik dengan teknik ecoprint.

Bertindak sebagai instruktur pelatihan para relawan dari Alumni SMA Ambulu (ASA), Kabupaten Jember. Dipilihnya teknik ecoprint dalam membatik, karena bahan yang digunakan dari alam, seperti daun jati dan daun kopi termasuk proses pewarnaan kain juga memanfaatkan pewarna alami.

“Coba diperhatikan untuk membuat kain batik ecoprint bagi konsumen bertubuh gemuk, pilihlah daun-daun kopi atau daun jati yang berukuran kecil. Sebaliknya bagi pelanggan yang memiliki tubuh kurus dan kecil cetakan gambar daun pilih yang besar-besar,” terang salah seorang isntruktur ASA, Siti Khotijah kepada peserta pelatihan disaksikan Sariagri, Rabu (12/1/2022).

Kegiatan pelatihan membatik ecoprint ini selain bertujuan menghilangkan rasa jenuh selama dipengungsian, diharapkan bisa menjadi bekal keterampilan bagi ibu-ibu petani korban dampak erupsi dalam berwirausaha setelah nanti direlokasi.

“Senang sekali, kami diajarkan keterampilan batik ecoprint, mulai dari proses awal mencetak motif menggunakan bahan-bahan alami dedaunan. Karena semua bahan-bahan yang digunakan ini mudah didapat di alam. sehingga kami tidak kesulitan mendapatkan bahan-bahan tersebut, “ ujar salah seorang peserta pelatihan, Khosiah.

Baca Juga: Emak-emak Korban Terdampak Erupsi Semeru Dapat Pelatihan Membatik Berbahan Daun Jati dan Kopi
Terdampak Erupsi Semeru, Lahan Petani Jagung Rusak dan Hasil Panen Merosot

Tak hanya memberi bekal keterampilan membatik dengan teknik ecoprint, para relawan ini juga akan melakukan pendampingan kepada karya para pengungsi termasuk membantu memasarkan produk yang dihasilkan nantinya.

“Batik ecoprint memiliki potensi pasar yang menjanjikan, selain banyak diburu batik jenis ini juga memiliki nilai jual cukup tinggi, mulai dari Rp200.000 hingga jutaan rupiah per lembar kain, tergantung motif dan corak warna yang dihasilkan. Tentunya karya ibu-ibu pengungsi ini akan kami bantu pasarkan untuk membantu pemulihan ekonomi, karena mereka telah kehilangan pekerjaan,” tandas Siti Khotijah.

Video Terkait