Ekspor Global Menggeliat, Gandum Berjangka Ditransaksikan Naik

Ilustrasi - Tanaman gandum.(Pixabay)

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 12 Januari 2022 | 12:00 WIB

Sariagri - Harga kontrak gandum di Bursa Berjangka Chicago atau Chicago Board of Trade (CBOT), Amerika Serikat (AS), ditutup naik sekitar 1 persen pada Selasa (11/1) atau Rabu (12/1) pagi WIB. Kenaikan didorong peningkatan dalam bisnis ekspor global dan short-covering menjelang sejumlah laporan utama Departemen Pertanian Amerika Serikat yang akan dirilis Rabu.

Jagung dan kedelai berjangka bergerak lebih tinggi menjelang laporan tersebut, yang akan mencakup perkiraan terbaru dari produksi tanaman Amerika 2021 dan persediaan 1 Desember. Kekhawatiran tentang cuaca panen di Amerika Selatan dan kenaikan harga minyak mentah juga memberikan dukungan.

Harga gandum Chicago Board of Trade untuk kontrak pengiriman Maret ditutup melesat 8,25 dolar AS menjadi 770,25 dolar AS per bushel (gantang) setelah mencapai 770,50 dolar AS per bushel, kontrak tertinggi sejak 5 JanuariB.

Sementara, jagung CBOT untuk kontrak pengiriman Maret ditutup naik 1,25 dolar AS menjadi 601 dolar AS per bushel dan kedelai Maret meningkat 1,75 dolar AS menjadi 1.386,50 dolar AS per bushel.

Gandum berjangka menguat, memperpanjang pemulihan dari posisi terendah multi-bulan yang disentuh pekan lalu, karena Aljazair, Turki dan Jepang memburu gandum di pasar dunia.

"Tender impor global mulai sedikit meningkat. Dan kami melihat tindak lanjut short-covering dari kemarin. Itu kemungkinan karena pemosisian menjelang laporan besok," kata Terry Reilly, analis Futures International.

Analis yang disurvei Reuters rata-rata memperkirakan USDA pada Rabu akan melaporkan stok gandum Amerika 1 Desember merupakan yang paling ketat sejak 2007.

Jagung dan kedelai berjangka menguat didorong pemosisian menjelang laporan USDA dan ketidakpastian tentang prospek tanaman Amerika Selatan.

Baca Juga: Ekspor Global Menggeliat, Gandum Berjangka Ditransaksikan Naik
Didorong Permintaan Kuat, Harga Jagung dan Kedelai Naik di Bursa Berjangka

Badan statistik dan pasokan makanan Brasil, Conab, menurunkan perkiraan panen kedelai Brasil 2021/22 menjadi 140,5 juta ton, dari 142,8 juta sebelumnya. Conab lebih konservatif daripada konsultan swasta, yang pekan lalu memangkas proyeksi produksi kedelai dengan volume jauh lebih besar.

Cuaca panas dan kering mengancam prospek panen di Argentina dan Brasil selatan.

"Prakiraan cuaca...menunjukkan curah hujan di benua Amerika Selatan, yang bagaimanapun akan tetap sangat tidak mencukupi, terutama di Argentina mengingat suhu yang sangat tinggi," kata konsultan Agritel dalam sebuah catatan.

Video Terkait