Benarkah Omicron Tidak Bahaya? Ini Penjelasan Ahli

Ilustrasi virus baru. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 6 Januari 2022 | 21:30 WIB

Sariagri - Di akhir tahun, dunia kembali dikejutkan dengan hadirnya varian COVID-19 baru, yaitu Omicron. Varian yang berasal dari Afrika Selatan itu telah menyerang beberapa negara termasuk Indonesia. 

Walaupun varian ini lebih cepat menular, tetapi Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa gejala yang ditimbulkan dari varian COVID-19 ini tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan Delta.

Seperti yang diketaui, varian delta sempat membuat beberapa negara termasuk Indonesia mengalami lonjakan jumah pasien penderita virus asal China ini. Perwakilan Tim COVID-19, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, dr. Siti Rosidah mengatakan, pernyataan Menkes tersebut untuk saat ini memang benar.

Pasalnya, varian Omricon hanya menyerang saluran pernasapan atas sehingga gejalanya lebih ringan dibandingkan dengan varian delta. 

"Untuk saat ini (pernyataan Menkes) pemantauannya cukup benar. Alasannya, karena omicron lebih banyak bersarang di saluran napas atau tidak di saluran napas bawah yang memberikan gambaran pneumonia berat atau gagal napas berat," kata dia saat dihubungi Sariagri, beberapa waktu lalu. 

Ia menjelaskan saat ini kasus-kasus COVID-19 yang terdeteksi di Jakarta adalah kasus tanpa gejala (OTG) atau kasus ringan. Pasien dengan kasus impor atau terjangkit dari luar negeri pun hingga saat ini masih belum ada yang mengalami gejala sedang atau berat. 

"Kasus ringan itu yang tidak dirawat di rumah sakit jadi isolasi mandiri saja di rumah atau kasus importir atau terjangkit dari luar negeri itu sudah diisolasi di RSD wisma atlet juga rata-rata gejalanya ringan dan belom terlaporkan gejala yang sedang atau berat," jelas dia.

Kendati demikian, virus Omicron dapat menjadi berat jika pasien memiliki komorbid atau menderita pneumonia berat sebelumnya 

"Kemungkinan bisa terjadi gejala sedang atau berat jika pasien tersebut sudah memiliki bakat pneumonia di tubuhnya atau memiliki riwayat pneumonia yang berat sebelumnya atau punya komorbid atau penyakit bawaan seperti darah tinggi, diabetes melitus atau penyakit paru-paru lain yang tidak terkontrol," ujarnya. 

Baca Juga: Benarkah Omicron Tidak Bahaya? Ini Penjelasan Ahli
Ini Jurus Jitu Lawan Varian Omicron dari Kemenkes

"(Pasien dengan komorbid) kemasukan virus omicron dapat membuat gejalanya lebih berat dan mirip sama delta yang bisa memberikan pembekuan di organ-organ atau koagulasi seluruh organ yang mengakibatkan menjadi keadaan yang lebih buruk dari kasus COVID-19 tersebut," lanjutnya.

Lebih lanjut Rosidah menjelaskan, penting untuk masyarakat selalu menjaga protokol kesehatan 5M untuk menekan penularan virus COVID-19 varian Omricon. Selain itu, menjaga kebersihan diri dan juga lingkungan juga penting untuk mencegah tertular virus ini. 

Video Terkait