Wajib Tahu! Ini Kisah Cinta Wortel, Cacing Tanah, dan Kembang Sepatu yang Mengagumkan

Ilustrasi makan wortel. (Istimewa)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 5 Januari 2022 | 16:40 WIB

Sariagri - Kisah cinta flora dan fauna jarang mendapat perhatian, padahal jika manusia mau belajar darinya akan mendapat banyak pengalaman berharga dari ciptaan Tuhan yang maha beragam. 

Kisah cinta wortel misalnya, sangat berbeda dengan manusia yang mayoritas malas dibilang jomblo. Manusia selalu membutuhkan pasangan untuk berbagi perasaan dan khususnya lawan jenis untuk bisa berkembang biak.

Tapi wortel tak menghadapi peliknya pertanyaan menikah atau tidak menikah. Kawin atau tidak kawin? Itu bukan pertanyaan penting bagi wortel. Wortel tak mengalami dilema itu karena dia bisa beranak pinak dengan atau tanpa perkawinan.

Ya, wortel termasuk tanaman yang istimewa karena dia bisa berkembang biak dengan dua cara tersebut: kawin atau tak kawin, sama sekali tak masalah.

Wortel yang sudah dewasa akan mengeluarkan bunga, di dalam bunga inilah perkawinan atau penyerbukan terjadi. Serbuk sari jatuh ke kepala putik. Sperma beradu dengan telur. Proses penyerbukan ini dapat dibantu oleh angin, hewan, air dan manusia.

Tapi saat musim kemarau, wortel dewasa tidak berbunga sehingga tidak terjadi penyerbukan. Terlihat tidak ramai di atas tempat seharusnya bunga berada. Namun di bawah, di umbi akar wortel tumbuh tunas-tunas baru. Mereka inilah calon tanaman wortel baru.

Kisah Cinta Cacing

Kisah cinta cacing tanah lebih unik lagi. Cacing adalah hewan hermaprodit yang artinya cacing memiliki alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Organ kelamin jantan dan betina dapat menghasilkan sperma dan sel telur masing-masing.

Sehingga mestinya cacing bisa berkembangbiak tanpa pasangan. Tapi ternyata tidak! Karena ternyata sebagian besar cacing tanah tetap membutuhkan pasangan untuk berkembang biak.

Selama kawin, dua cacing berbaris terbalik satu sama lain, manusia menyebutnya posisi 69, sehingga sperma dapat dipertukarkan untuk bertemu dengan telur yang selalu tersimpan matang di tubuh masing-masih. Ya, untuk bereproduksi mereka harus melakukan perkawinan silang dengan cara bertukar spermatozoid melekatkan bagian depan (anterior) dengan posisi saling berlawanan.

Dari hasil perkawinan ini kemudian akan dihasilkan kokon atau butir telur yang nantinya akan terlepas dari tubuh cacing pada hari ketujuh hingga hari kesepuluh setelah proses perkawinan. Antara 10-14 hari kemudian kokon akan menetas dan menghasilkan bibit cacing tanah.

Nah kembang sepatu beda lagi. Dia ini mampu melakukan penyerbukan mandiri tanpa bantuan pihak lain. Dia punya kelamin jantan dan betina serta mahkota bunga. Bagian bunga yang bertangkai di tengah dan berwarna merah adalah putik, sedangkan yang berwarna kuning di sekitarnya adalah benang sari.

Meski mampu melakukan penyerbukan mandiri, kembang sepatu tidak dapat menghasilkan buah. Hal ini disebabkan karena kembang sepatu tidak dapat menghasilkan sperma sehingga proses pembuahan tidak terjadi.

Kembang sepatu hanya bisa dikembang biakkan dengan cara stek dan cangkok. Artinya, kembang sepatu yang tampak mandiri ternyata sama sekali tak mandiri. Wang sinawang, kata orang Jawa. Jangan menilai orang dari penampakan. Apa yang kamu lihat belum tentu sesuai fakta. Seperti kembang sepatu, tampak mandiri, tapi sebenarnya, manja sekali!

Video Terkait