Sektor Swasta Korea Utara Terus Meningkat

Diplomat Rusia dan keluarganya menggunakan kereta lori yang digerakkan secara manual melintasi garis demarkasi antara Rusia - Korea Utara saat meninggalkan Korea Utara terkait pandemi COVID-19, Kamis (25/2/2021). (Antara Foto/Reuters)

Editor: M Kautsar - Kamis, 16 Desember 2021 | 16:40 WIB

Sariagri - Proporsi sektor swasta ekonomi Korea Utara terus meningkat selama dekade terakhir sejak Kim Jong-un mengambil alih kekuasaan, seperti dikutip dari Yonhap News, Kamis (16/12). 

Mengutip survei Korea Utara, Kementerian Pariwisata Korea Utara mengatakan bahwa lebih banyak warganya terlibat dalam kegiatan ekonomi swasta di bawah kepemimpinan Kim. Kegiatan itu dikelola dalam sebuah divisi ekonomi negara yang sebagian besar dikendalikan oleh negara.

Kecenderungan Korea Utara menuju marketisasi datang ketika orang-orang beralih ke pasar swasta, yang dikenal sebagai jangmadang. Keputusan ini tampaknya diambil setelah mereka kehilangan manfaat negara seperti penjatahan makanan di tengah kesengsaraan ekonomi yang semakin dalam, kata pengamat.

Di antara 740 pembelot Korea Utara yang meninggalkan tanah air mereka antara 2016 dan 2020, 37,6 persen mengatakan mereka mencari nafkah dari kegiatan ekonomi swasta, naik dari 27,7 persen yang dihitung dari mereka yang meninggalkan Korea Utara antara 2006 dan 2010.

Jumlah responden yang mengatakan mereka mendapatkan uang di tempat kerja yang dikelola negara seperti pertanian dan pabrik turun dari 28,4 persen menjadi 24,7 persen selama periode yang disebutkan.

Jumlah pedagang di pasar diperkirakan sekitar 768 antara 2016 dan 2020, naik dari rata-rata 467 antara 2006 dan 2010 dan 605 antara 2011 dan 2015.

"Data menunjukkan marketisasi terus berlanjut di bawah rezim Kim Jong-un. Ekonomi terus menunjukkan elemen ganda dari kegiatan yang dijalankan negara dan swasta," kata seorang pejabat kementerian.

Baca Juga: Sektor Swasta Korea Utara Terus Meningkat
Anugerah Desa Wisata Indonesia Jadi Wahana Promosi

Sementara itu, ekonomi Korea Utara menyusut 4,5 persen tahun lalu, tampaknya karena pandemi Covid-19 dan sanksi dunia internasional yang melumpuhkan di tengah sedikit kemajuan dalam negosiasi nuklir.

"Korut tampaknya berhasil mempertahankan status quo sampai batas tertentu, tetapi sudah waktunya bagi utara untuk membuat strategi ekonomi baru di luar kemandirian untuk pertumbuhan berkelanjutan dan peningkatan mata pencaharian masyarakat," kata pejabat lainnya.

Video Terkait