Ancaman Sampah Plastik Makanan dan Minuman Instan Meningkat, Indonesia Butuh Banyak Industri Pengolahan Limbah

Industri pengolahan sampah makanan dan minuman. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 13 Desember 2021 | 16:30 WIB

Sariagri - Sampah plastik bekas makanan dan minuman kemasan, menjadi permasalahan serius di seluruh wilayah di Indonesia. Bahkan jika tidak tertanggulangi akan menjadi persoalan sosial yang berdampak pada kesehatan manusia.

Karena itu, perlu penangganan cepat terutama di tingkat hilir agar ekosistem lingkungan hidup sehat bagi manusia dan makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuhan bisa lestari dari ancaman bahaya sampah plastik.

Pernyataan itu ditegaskan Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Dan Investasi (Kemenko Marves) Nani Hendiarti seusia melakukan kunjungan ke pabrik pengolahan daur ulang (recycle) botol plastik milik PT Veolia Service Indonesa (Veolia Indonesia) di Kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Nani mengatakan PT. Veolia Indonesia merupakan industri daur ulang botol plastik terbesar di Indonesia saat ini. Berkat kerja sama dengan PT. Tirta Investama (Danone-AQUA), pabrik ini telah mampu mengolah botol plastik PET (Polyethylene Terephthalate) bekas pakai menjadi biji plastik.

“Pabrik ini merupakan industri daur ulang botol plastik terbesar di Indonesia. mulai dibangun sejak tahun 2019 dan operasionalnya secara resmi di-launching pada bulan Juni 2021 lalu, “ terang Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Dan Investasi (Kemenko Marves) Nani Hendiarti kepada Sariagri, Minggu (12/12/2021).

Lebih jauh, Nani menjelaskan industri ini mampu menghasilkan plastik baru dengan kapasitas produksi 25.000 ton/tahun recycled-PET (rPET). Nani menyampaikan apresiasi atas kerjasama antara Veolia Services Indonesia (Veolia Indonesia) dengan Danone-Aqua yang telah merealisasikan investasinya dalam industri daur ulang plastik di Indonesia.

“Kerjama tersebut telah sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan angka daur ulang serta mengurangi polusi dari sampah plastik di lingkungan Indonesia, “ bebernya.

Ia menambahkan kehadiran pabrik daur ulang plastik seperti Veolia ini sangat penting sebagai jembatan untuk me-reverse plastik makanan maupun minuman kemasan  yang sudah tidak bisa dipakai lagi (sampah) menjadi bahan plastik yang baru.

Melalui proses ini diharapkan akan mengurangi produk plastik yang berasal dari virgin plastikc dan mensubstitusinya dengan recycled plastic, dimana saat ini rasio daur ulang plastik di Indonesia baru berkisar di angka 10 persen.

Nani menegaskan pengelolaan sampah plastik, memang harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu sampai ke hilir, dan dibuat suatu ekosistem yang saling mendukung mulai dari upaya pengurangan (3R), pemilahan, pengumpulan, sampai dengan pendaur-ulangan (recycling).

Kebijakan ini bersinergi dengan penerapan peta jalan pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30 persen, dimana setiap produsen manufaktur, ritel, serta jasa makanan dan minuman, bertanggung jawab untuk mengurangi sampah dari produk dan kemasannya, melalui penarikan kembali, pendauran ulang dan/atau guna ulang.

“Saya sangat mengharapkan agar bentuk kerjasama ini dapat diadopsi pula oleh seluruh produsen yang menggunakan plastik dalam produk makanan-minuman dan kemasannya, melalui pembangunan fasilitas yang sama atau melalui pengembangan Kerjasama penarikan kembali sampah produk/kemasan berbahan plastik untuk dilakukan pendauran ulang, “ kata dia.

Jika pola Kerjasama ini dapat dikembangkan ke dalam skala yang lebih luas lagi, imbuhnya, maka kerjasama antar para pemangku kepentingan baik pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan sektor informal, diyakini akan bisa menyelesaikan 39 persen permasalahan sampah plastik yang sampai saat ini belum tertangani.

Sementara itu, Direktur Veolia Indonesia Joko Sunaryo, mengungkapkan fasilitas yang dibangun di atas lahan 22.000 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter persegi ini telah menerapkan teknologi mutakhir untuk menghasilkan recycled-PET (rPET) dengan standard food grade dan telah mendapat sertifikat halal.

“Perusahaan telah bekerja sama dengan para suplier botol plastik lokal yang sebagian besar merupakan pengumpul, UMKM, bank sampah dan fasilitas TPST/TPS3R dari beberapa kabupaten di sekitar Jawa Timur dan daerah lainnya. Tidak ada sampah botol plastik yang bersumber dari luar negeri atau impor”, terang Joko Sunaryo.

Di sisi lain, Karyanto Wibowo mewakili Danone-Aqua menyampaikan kemitraan yang dibangun bersama Veolla Indonesia ini akan dapat meningkatkan volume plastik PET daur ulang atau rPET yang digunakan di seluruh kemasan botol yang diproduksi Danone-Aqua.

“Inilah wujud nyata komitmen kami mendukung pemerintah mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus pendorong tumbuhnya ekonomi nasional, termasuk di dalamnya meningkatkan kesejahteraan bagi para pekerja di sektor persampahan yang mayoritas berasal dari sektor informal,” tuturnya.

Baca Juga: Ancaman Sampah Plastik Makanan dan Minuman Instan Meningkat, Indonesia Butuh Banyak Industri Pengolahan Limbah
Begini Strategi Pemkab Banyumas Atasi Sampah Plastik

Sebagai penutup kegiatan, seluruh undangan yang hadir memberikan bantuan berupa produk makanan dan minuman kepada korban bencana erupsi gunung semeru di Lumajang.

“Bantuan berupa produk makanan dan minuman sebagai bentuk kepedulian terhadap korban bencana Gunung Semeru, semoga bisa meringankan beban para warga terdampak, “ terang Karyanto Wibowo selaku Ketua PRAISE sekaligus Dewan Penasihat IPRO diserahkan kepada Deputi Nani dan selanjutnya akan  disampaikan kepada korban bencana melalui Pemda Kabupaten Lumajang.

Video Terkait