Nilai Tukar Rupiah Kian Terpuruk, Pasar Masih Was-was dengan Omicron

Ilustrasi uang rupiah. (pixabay)

Editor: Yoyok - Kamis, 2 Desember 2021 | 15:48 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah kian terpuruk pada akhir transaksi hari ini, Kamis (2/12) sore. Rupiah anjlok 51 poin atau 0,36 persen menjadi Rp14.397 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.

Selain rupiah, hingga pukul 15.00 WIB, mayoritas nilai tukar mata uang di kawasan Asia juga tak berdaya terhadap dolar AS, kecuali dolar Hong Kong yang menguat 0,05 persen dan krown Korea yang naik 0,29 persen.

Sementara itu, yen Jepang anjlok 0,43 persen, dolar Singapura turun 0,12 persen, dolar Taiwan terkoreksi 0,11 persen, peso Filipina tergerus 0,09 persen, rupee India ambyar 0,36 persen, yuan China turun 0,12 persen, ringgit Malaysia melemah 0,24 persen, dan baht Thailand turun 0,38 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan pelemahan rupiah disebabkan indeks dolar AS menguat akibat pasar diguncang informasi tentang varian baru omicron Covid-19.

“Varian baru ini lebih menular daripada sebelumnya sehingga bisa membuat sejumlah negara mengurangi perjalanan warganya dan melakukan lockdown (penguncian) wilayah sehingga berdampak pada pemulihan ekonomi,” ujar Ibrahim.

AS melaporkan kasus varian pertamanya pada Rabu, karena Australia, Inggris, Kanada, dan Jepang, juga melaporkan kasus meskipun perbatasan diperketat.

Sementara itu, jumlah kasus omicron di Afrika Selatan, tempat ditemukannya varian empat pekan lalu, meningkat dua kali lipat dari Selasa hingga Rabu.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Kian Terpuruk, Pasar Masih Was-was dengan Omicron
Nilai Tukar Rupiah Rabu Sore Melemah, Pasar Antisipasi Fed Percepat Tapering

Namun, terlepas dari ketidakpastian seputar omicron dan dampaknya, Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell menegaskan kembali pendiriannya bahwa Fed akan mempertimbangkan untuk mempercepat pengurangan aset ketika bertemu dari 14 hingga 15 Desember. “Ini juga bisa berarti kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan,” kata Ibrahim.

Meskipun The Fed telah mengadopsi nada inflasi yang lebih hawkish, Bank of England dan Bank Sentral Eropa tetap berpegang pada nada dovish. Di sisi data, indeks manajer pembelian manufaktur Institute of Supply Management lebih tinggi dari perkiraan 61,1 pada bulan November.

Video Terkait