Menteri Teten: Akhir 2021, Indonesia Swasembada Cangkul Jadi Tidak Perlu Impor Lagi

Menteri Teten datangi produsen cangkul. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 25 Oktober 2021 | 14:50 WIB

Sariagri - Indonesia ditargetkan di akhir 2021, sudah bisa swasembada cangkul. Sehingga ke depan tidak perlu lagi melakukan impor alat pertanian karena kebutuhan tersebut sudah dipenuhi oleh produk lokal ber-Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Teten Masduki seusai meninjau langsung tempat produksi cangkul merah putih di Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

“Saya ingat betul pertama diangkat Bapak Presiden Jokowi menjadi Menteri Koperasi dan UKM, waktu itu ramai sekali di media sosial soal impor cangkul. Lalu saya ditugasi Bapak Presiden untuk mencari solusi, agar jangan sampai kita impor cangkul lagi, “ tutur Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Teten Masduki kepada Sariagri, Jumat (22/10/2021).

Karena itu, imbuhnya, dengan dimulainya produksi cangkul berstandar Nasional indonesia di Tuungagung ini, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga tidak perlu lagi impor cangkul.

Menteri Teten menceritakan sekilas setelah dirinya dilantik menjadi menteri, ia pun berinisiatif ke daerah untuk mencari tahu penyebab terjadinya impor cangkul. Ternyata jawabnya para perajin dan pelaku usaha kesulitan bahan baku.

“Waktu itu isunya kesulitan bahan baku. Karena itu dengan adanya produksi cangkul merah putih, artinya kita sudah swasembada cangkul dan tidak perlu lagi impor. karena produsen tidak lagi kesulitan bahan baku dan sudah disuplai PT Krakatau Steel (KS), “ kata dia

Selain itu, imbuhnya, adanya dukungan pembiayaan dari BRI dan koperasi diharapkan makin meningkatkan produksi cangkul dalam negeri.

“Jadi kita akan dukung penuh produksi lokal untuk mengisi market dalam negeri, terutama untuk peralatan pertanian, “ terangnya.

Menteri Teten menambahkan pendekatan yang dilakukan pada perajin bukan lagi hibah, namun ekosistem. Satu diantaranya memperkuat akses dari pembiayaan dan penguatan koperasi. Demikian pula Kredit Usaha Rakyat (KUR) akan terus dinaikan dengan bunga sangat rendah.

“Tidak kalah penting akses pasar, pembiayaan dan penguatan koperasi. Melalui pinjaman KUR dengan bunga rendah diharapkan bisa meningkatkan produksi cangkul lokal, “ urainya.

Ekosistem lainnya, yakni sertifikasi artinya dengan label SNI, cangkul buatan rakyat Indonesia tidak kalah kualitasnya dengan produk sejenis buatan luar negeri. Dalam memproduksi alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit, pisau dan parang, Koperasi Angudi Logam Abadi di Tulungagung ditunjang oleh 20 anggota.

“Ke 20 produsen alat pertanian ini, menurut informasi merupakan usaha kecil menengah yang di gandeng dalam produksi cangkul merah putih, “ kata Menteri Teten.

Sementara itu, salah seorang produsen cangkul anggota koperasi angudi logam abadi, Suyatmi mengatakan proses pembuatan cangkul SNI, seluruhnya menggunakan mesin. Sehingga perajin diharapkan dalam satu hari mampu memproduksi 100 unit cangkul.

“Seluruh hasil produksi ditampung di koperasi ini. Pesanan dikerjakan menggunakan mesin yang dimiliki 20 perajin dibawah naungan koperasi. Targetnya per hari bisa membuat 100 unit cangkul,” ujar salah seorang produsen cangkul anggota koperasi angudi logam abadi, Suyatmi.

Baca Juga: Menteri Teten: Akhir 2021, Indonesia Swasembada Cangkul Jadi Tidak Perlu Impor Lagi
Pemerintah Beri Fasilitas Riset dan Rumah Produksi bagi UMKM

Ia menambahkan saat ini permintaan pasar di seluruh Indonesia mencapai 2.000 unit cangkul. Untuk mengejar kebutuhan pasar tersebut, para perajin masih menunggu kiriman 5 ton bahan baku dari Krakatau steel.

“Kami masih menunggu bahan baku kiriman dari KS sebanyak 5 ton untuk mengejar permintaan pasar 2.000 unit cangkul, “ tandasnya.

 Video terkait:

Video Terkait