WHO Meramal Pandemi COVID-19 Masih Berlanjut hingga 2022

Ilustrasi pandemi Covid-19. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 22 Oktober 2021 | 14:10 WIB

Sariagri - Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meramal soal pandemi COVID-19 di tahun 2022. Badan kesehatan PBB itu menilai pandemi akan terus berlanjut.

Seperti diberitakan BBC, Dr Bruce Aylward, pemimpin senior di WHO, mengatakan hal ini disebabkan oleh kesenjangan angka vaksinasi di dunia. Banyak negara maju di dunia telah menembus angka vaksinasi lebih dari 50% sementara Afrika kurang dari 5% saja.

"Saya dapat memberitahu Anda kami tidak di jalur," kata Dr Bruce.

"Kami benar-benar perlu mempercepatnya atau Anda tahu? Pandemi ini akan berlangsung selama satu tahun lebih lama dari yang seharusnya,"tambahnya.

WHO menggunakan platform Covax untuk menyalurkan vaksin kepada negara-negara berpenghasilan rendah yang tidak memiliki vaksin yang cukup. Namun platform ini nyatanya dimanfaatkan negara maju seperti Inggris dan Kanada untuk memperoleh vaksin bagi warganya.

Angka resmi menunjukkan bahwa awal tahun ini Inggris menerima 539.370 dosis Pfizer sementara Kanada mengambil tak sampai satu juta dosis AstraZeneca dengan platform ini. Padahal, angka vaksinasi kedua negara sudah cukup baik.

"Mereka seharusnya tidak mendapatkan dosis ini dari Covax," papar Penasihat Kesehatan Global lembaga distribusi vaksin Oxfam, Rohit Malpani.

"Tidak ada yang lebih baik dari double-dipping dan berarti negara-negara miskin yang sudah berada di belakang antrian, akan berakhir menunggu lebih lama,"paparnya.

Baca Juga: WHO Meramal Pandemi COVID-19 Masih Berlanjut hingga 2022
Jerman dan Perancis Abaikan Seruan WHO Soal Pemberian Booster Vaksin COVID-19

Mengutip data Worldometers, dari awal pandemi hingga kini ada 242.834.042 kasus COVID-19 di dunia dengan 4.938.241 kematian. Terdapat 220.118.707 warga bumi sembuh.

Dari total kasus, sejumlah negara menempati posisi teratas jumlah penderita Covid terbanyak, yakni AS, India, Brazil, Inggris, Rusia, dan Turki. Covid-19 sendiri ditemukan pertama kali di Wuhan, China akhir tahun 2019.

Video Terkait