Studi: Pemanasan Global Ancam Kota-kota Besar di Dunia

Dhaka, Bangladesh. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 5 Oktober 2021 | 20:00 WIB

Sariagri - Studi yang dirilis di Proceedings of the National Academy of Sciences belum lama ini mengungkap bahwa pemanasam global dan pertumbuhan populasi telah menyebabkan paparan panas yang kian ekstrem di kota-kota besar. Paparan panas ekstrem ini mempengaruhi hampir seperempat populasi dunia dan menimbulkan masalah kesehatan.

Penelitian ini menyebut, dalam beberapa dekade terakhir, ratusan juta orang telah pindah dari daerah pedesaan ke kota-kota. Di mana suhu umumnya lebih tinggi karena permukaan seperti aspal yang memerangkap panas dan kurangnya vegetasi.

Para ilmuwan mempelajari panas dan kelembaban harian maksimum di lebih dari 13.000 kota dari tahun 1983 hingga 2016. Menggunakan apa yang disebut skala "suhu bola bola basah", ukuran yang memperhitungkan panas dan kelembaban, mereka mendefinisikan panas ekstrem sebagai 30 derajat Celcius. Para peneliti kemudian membandingkan data cuaca dengan statistik populasi kota selama periode 33 tahun yang sama.

Mereka menghitung jumlah hari panas ekstrem pada tahun tertentu. Para penulis menemukan bahwa jumlah penduduk kota terpapar panas ekstrEm meningkat dari 40 miliar per tahun pada 1983 menjadi 119 miliar pada 2016. Cascade Tuholske di Institut Bumi Universitas Columbia, penulis utama studi tersebut, mengatakan kenaikan itu meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

"Ini berdampak pada kemampuan orang untuk bekerja, dan menghasilkan output ekonomi yang lebih rendah. Ini memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dilaporkan Daily Sabah.

Pertumbuhan populasi menyumbang dua pertiga dari lonjakan paparan, dengan suhu pemanasan aktual berkontribusi sepertiga, meskipun proporsinya bervariasi dari kota ke kota. Ibu kota Bangladesh, Dhaka, adalah kota yang paling parah terkena dampak, mengalami peningkatan 575 juta orang-hari panas ekstrem selama periode penelitian.

Itu sebagian besar disebabkan oleh populasinya yang melonjak dari sekitar 4 juta pada tahun 1983 menjadi sekitar 22 juta hari ini. Kota-kota besar lainnya yang menunjukkan tren serupa adalah Shanghai, Guangzhou, Yangon, Dubai, Hanoi dan Khartoum serta berbagai kota di Pakistan, India, dan Jazirah Arab.

Kota-kota besar yang mengalami sekitar setengah dari paparan mereka yang disebabkan oleh iklim yang memanas termasuk Baghdad, Kairo, Kota Kuwait, Lagos, Kolkata, dan Mumbai.

Baca Juga: Studi: Pemanasan Global Ancam Kota-kota Besar di Dunia
Heboh Teluk Jakarta Tercemar Paracetamol, KLHK: Tidak Berbahaya bagi Kesehatan Manusia



Para penulis mengatakan pola yang mereka temukan di Afrika dan Asia Selatan, sangat membatasi kemampuan kaum miskin perkotaan untuk menyadari keuntungan ekonomi yang terkait dengan urbanisasi. Para peneliti mengatakan dibutuhkan investasi yang cukup, intervensi kemanusiaan, dan dukungan pemerintah untuk mengatasi dampak negatif tersebut.

Di Amerika Serikat, sekitar empat puluh kota besar mengalami peningkatan paparan panas, terutama di negara bagian Pantai Teluk Texas, Louisiana, Mississippi, Alabama, dan Florida. Studi ini dilakukan oleh para peneliti di New York's Columbia, University of Minnesota Twin Cities, University of Arizona di Tuscon dan University of California, Santa Barbara.

Video Terkait