Serangan COVID-19 Terjadi Banyak Gelombang, Ini Penjelasan Pakar

Ilustrasi virus (Pexels)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 1 Oktober 2021 | 11:45 WIB

Sariagri - Indonesia telah melewati gelombang kedua COVID-19 dan diprediksi akan menghadapi gelombang ketiga dalam waktu dekat. Mengingat pola penularan virus Corona yang bergelombang ini juga terjadi di berbagai negara di dunia.

Lantas kenapa penularan virus Corona terjadi secara bergelombang? Menurut ahli virologi Universitas Udayana, Prof Dr drh Gusti Ngurah Kade Mahardika, pola gelombang penularan virus Corona ini terjadi secara alami.

Menurutnya, hal ini biasa terjadi ketika sedang pandemi. Di mana tak banyak orang yang belum memiliki antibodi terhadap suatu penyakit.

"By nature, jadi itu alami, tanpa intervensi apa pun pasti patern atau polanya akan bergelombang. Jadi persis terjadi seperti 100 tahun lalu, itu dia bergelombang kemudian berakhir," kata Prof Gusti dalam siaran BNPB.

"Kalau 100 tahun yang lalu itu dalam waktu 3 tahun. (Pandemi COVID-19) ini pun diprediksi akan berlangsung 3 tahun, jika tanpa intervensi," tambahnya.

Namun, saat ini teknologi sudah berkembang maju sehingga penanganan pandemi dapat lebih cepat dilakukan. Contohnya, kata Prof Gusti, vaksin COVID-19 dapat tersedia dalam waktu singkat, sehingga kekebalan kelompok atau herd immunity dapat terbentuk lebih cepat.

"Syukur alhamdulilah teknologi sudah tersedia, vaksin sudah tersedia dengan cepat, sehingga mungkin mudah-mudahan insyaAllah pada tahun 2022 itu kita sudah (terkendali), virus masih ada di sekitar kita, tapi dampak pandemi bisa kita minimalisir. Jadi ini peran vaksin," ujarnya.

Baca Juga: Serangan COVID-19 Terjadi Banyak Gelombang, Ini Penjelasan Pakar
Ahli Virologi Prediksi Gelombang Ketiga COVID-19 Terjadi di 2022

Meski demikian, Prof Gusti mengatakan gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia pasti akan terjadi. Hanya saja jumlah orang yang masuk rumah sakit dan meninggal dunia akibat virus Corona kemungkinan sangat rendah.

"Gelombang ketiga pasti akan terjadi, hanya saja pola dunia memang ketika letupan kasus terjadi. Tapi kemudian negara-negara yang vaksinasinya sudah di atas 60 persen, itu kasus masih terjadi, mereka sudah bebas tanpa prokes lagi. Jadi mereka berkerumun, nonton bola, pergi ke stadion, dan jumlah orang yang masuk ke rumah sakit sangat rendah, dan juga orang yang meninggal sangat rendah," jelasnya.

Video Terkait