AS Diduga Biayai Penelitian Virus Covid-19 di Wuhan

Ilustrasi Virus Corona (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 10 September 2021 | 16:20 WIB

Sariagri - Amerika Serikat (AS) diduga biayai penelitian virus corona di Wuhan Institute of Virology, China. Kemungkinan itu diperkuat kecurigaan soal virus corona pertama kali muncul di lab Wuhan yang mengalami kebocoran, bukan menular dari hewan ke manusia.

The Intercept media AS mendapat sebuah dokumen rahasia berisikan 900 halaman lebih. Dalam dokumen disebut dana itu datang dari lembaga nirlaba EcoHealth Alliance, yakni organisasi kesehatan AS yang pakai uang pemerintah sipil untuk meneliti virus corona dari kelelawar di laboratorium China.

"Ini adalah peta jalan menuju riset berisiko tinggi yang bisa saja telah membawa kita ke pandemi yang sedang terjadi sekarang," kata Gary Ruskin, direktur eksekutif US Right To Know, kelompok peneliti asal-usul Covid19, dikutip dari The Intercept, Jumat (10/9/2021).

EcoHealth diduga mendapat dana hibah sebanyak 3,1 juta dolar AS atau setara Rp44 miliar lebih. Sebanyak 599 ribu dolar AS atau setara Rp8,5 miliar diberikan ke Institute Virologi Wuhan, China.

Dalam dokumen, terdapat keinginan presiden EcoHealth Alliance, Peter Daszak untuk skrining ribuan kelelawar guna mendapatkan virus corona baru. Skrining juga dilakukan ke orang yang bekerja & punya kontak erat dengan hewan.

Dokumen itu juga berisi detail penting soal penelitian di Wuhan, termasuk percobaan yang melibatkan tikus yang dirancang agar punya gen, sistem imun, jaringan atau bagian lainnya dari tubuh manusia. Tapi ironisnya, proposal itu mengakui jika penelitian itu memang bahaya.

"Pekerjaan lapangan melibatkan risiko tertinggi terpapar SARS atau CoV lainnya, saat bekerja di gua dengan kepadatan kelelawar yang tinggi di atas kepala dan potensi debu tinja untuk terhirup," berikut isi dokumen itu.

Baca Juga: AS Diduga Biayai Penelitian Virus Covid-19 di Wuhan
Waspada! Ilmuwan Temukan Mutasi Varian Baru COVID-19 Kolombia-B1621

Ahli biologi molekuler di Rutgers University, AS menyebut di dokumen itu juga dijabarkan soal informasi penelitian yang dilakukan di Wuhan, salah satunya soal penelitian untuk membuat virus corona baru dengan memakai 2 jenis virus yakni SARS & MERS.

"Virus yang mereka buat diuji kemampuannya untuk menginfeksi tikus yang direkayasa untuk menampilkan reseptor manusia dalam sel-selnya," pungkasnya.

Video Terkait