Ahli Paru Ingatkan Asap Karhutla Turut Perparah Kondisi COVID-19

Dok. Petugas Satgas Karhutla saat memadamkan kebakaran lahan di wilayah Sumsel (BPBD Sumsel)

Editor: Arif Sodhiq - Minggu, 20 Juni 2021 | 12:00 WIB

SariAgri - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menimbulkan banyak kerugian di berbagai sektor, termasuk kesehatan. Polusi udara termasuk asap karhutla turut memperparah COVID-19 baik dari penularan, angka rawat inap dan angka kematian.

"Asap dari karhutla berdampak pada morbiditas respirasi, kardiovaskular, serebrovaskular, hingga kematian," ujar Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto dalam webinar "Kebakaran Hutan dan Lahan, Benarkah Dapat Bersinergi dengan COVID-19?" yang diadakan IPB University secara daring, Sabtu (19/6/2021).

Menurut Agus, berbeda dengan polusi udara, komposisinya kompleks berupa partikel sangat kecil yang biasa disebut particulate matter (PM). Partikel ini terdiri dari campuran komponen termasuk asam (nitrat dan sulfat), bahan kimia organik, logam dan partikel tanah atau abu.

Jika diklasifikasikan berdasarkan ukuran, lanjut dia, asap karhutla mengandung partikel kasar berdiameter kurang atau sama dengan 10 μm disebut PM10, partikel halus berdiameter lebih kecil sama dengan 2,5 μm yang disebut PM2,5, serta partikel sangat halus berdiameter kurang atau sama dengan 1 μm atau disebut PM1.

PM yang berasal dari asap karhutla dapat terhirup ke dalam paru-paru, masuk ke alveolus bahkan hingga ke aliran daerah. Asap itu juga mengandung karbon monoksida (CO) yang bisa menyebabkan hipoksia dan iskemia, nitrogen dioksida (NO2) yang berdampak toksik dan karsinogenik, Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) yang dapat menyebabkan toksik dan karsinogenik, serta Volatile organic compound (VOC) yang menyebabkan iritan dan karsinogenik.

Berdasarkan sejumlah penelitian yang mencoba mengungkap kaitan polusi udara dengan COVID-19 seperti studi Pasini et al (2020) di delapan negara yaitu Italia, Spanyol, Jerman, Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Iran dan Cina yang menggunakan satelit dan pengukuran indeks kualitas udara, diketahui infeksi COVID-19 lebih banyak terjadi pada daerah dengan kadar PM2,5 dan NO2 tinggi.

Baca Juga: Ahli Paru Ingatkan Asap Karhutla Turut Perparah Kondisi COVID-19
Cegah Karhutla, Pemerintah Luncurkan Teknologi Modifikasi Cuaca

Sedangkan studi Zhu et al. (2020) di 219 kota di Cina menunjukkan peningkatan kadar PM2,5, PM10, NO2, dan O3 sebesar 10 μm per meter kubik (m3) berkaitan dengan peningkatan kasus COVID-19 harian sebanyak 2,24 persen, 1,76 persen, 6,94 persen, dan 4,75 persen (secara berurutan).

Sementara penelitian yang dilakukan Setti et al. (2020) di 110 kota di Italia menunjukkan perbandingan kasus COVID-19 per 1.000 penduduk antara kota dengan kadar PM10 tertinggi dan terendah 0,26:0,03. Hal ini memunculkan dugaan PM10 dapat menjadi karier droplet berisi virus, memungkinkan partikel virus bertahan lebih lama di udara, sehingga meningkatkan transmisi COVID-19 secara indirek.

Video terkait:

Video Terkait