Puluhan Bayi Cumi-cumi Dikirim ke Stasiun Luar Angkasa untuk Studi NASA

Ilustrasi - Cumi-cumi yang dapat bersinar. (YouTube)

Editor: Arif Sodhiq - Minggu, 6 Juni 2021 | 20:00 WIB

SariAgri - SpaceX, perusahaan transportasi luar angkasa milik konglomerat Elon Musk dilaporkan membawa 128 bayi cumi-cumi bobtail ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Cumi-cumi yang dapat bersinar itu diterbangkan dari Kennedy Space Center menggunakan roket Falcon sebagai bagian dari penelitian NASA.

Selain cumi-cumi, dalam penerbangan ini roket Falcon juga membawa sekitar 3.300 kilogram perbekalan berupa lemon segar, bawang, alpukat, dan tomat ceri untuk tujuh astronot.

Pengiriman bayi cumi-cumi ini digunakan sebagai bagian dari studi efek perjalanan ruang angkasa pada interaksi yang menguntungkan antara kehidupan mikroba dan hewan.

Cumi-cumi kecil itu dikirim ke luar angkasa dalam tas akuarium kecil yang terhubung ke pompa yang dirancang untuk menginokulasi cumi-cumi dengan bakteri bercahaya. Hewan itu merupakan bagian dari penelitian hubungan antara bakteri menguntungkan dan inang hewan.

"Hewan termasuk manusia bergantung pada mikroba untuk menjaga kesehatan pencernaan dan sistem kekebalan tubuh," kata penyelidik NASA Jamie Foster.

"Kami tidak sepenuhnya memahami bagaimana penerbangan luar angkasa mengubah interaksi yang menguntungkan ini. Eksperimen (memahami gaya berat mikro pada interaksi hewan-mikroba) menggunakan cumi-cumi bobtail yang bersinar dalam gelap untuk mengatasi masalah penting ini dalam kesehatan hewan," jelasnya.

Di alam liar, cumi-cumi bersinar dalam kegelapan. Namun untuk dapat bersinar, hewan itu harus mendapatkan mikroba simbiosis dari lingkungan. Setelah itu terjadi, cumi-cumi dapat bersinar dalam gelap dan bersembunyi dari pemangsa.

Dalam penerbangan ini, cumi-cumi itu ditemani 20.000 beruang air atau tardigrades, serta tanaman cabai dan bibit kapas.

Tardigrades dapat bertahan hidup di lingkungan yang drastis di bumi dan bahkan di ruang hampa udara.

Diluncurkan dalam keadaan beku, ekstrofil mikroskopis ini akan dicairkan dan dihidupkan kembali di stasiun luar angkasa.

Dengan mengidentifikasi gen di balik kemampuan beradaptasi hewan, para ilmuwan berharap lebih memahami tekanan pada tubuh manusia selama berada di luar angkasa.

Baca Juga: Puluhan Bayi Cumi-cumi Dikirim ke Stasiun Luar Angkasa untuk Studi NASA
Mengungkap Penyebab Penurunan Hasil Tangkapan Ikan di Jepang

"Penerbangan luar angkasa bisa menjadi lingkungan yang sangat menantang bagi organisme, termasuk manusia, yang telah berevolusi ke kondisi di Bumi," kata Thomas Boothby dari NASA.

"Salah satu hal yang sangat ingin kami lakukan adalah memahami bagaimana tardigrade bertahan dan bereproduksi di lingkungan ini dan apakah kami dapat mempelajari sesuatu tentang trik yang mereka gunakan dan mengadaptasinya untuk melindungi astronot," katanya, seperti dilansir ABC.

Video terkait:

Video Terkait