Rupiah Paling Perkasa di Antara Mata Uang Asia

Mata uang rupiah dan dolar AS di sebuah gerai penukaran uang.

Editor: Yoyok - Kamis, 6 Mei 2021 | 15:20 WIB

SariAgri - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir transaksi Kamis (6/5) di pasar spot menguat 116 poin atau 0,80 persen ke level Rp14.319 dibandingkan penutupan sebelumnya Rp14.435 per dolar AS.

Hingga pukul 15.00 WIB, rupiah paling perkasa di antara mata uang Asia lainnya, seperti dolar Taiwan yang hanya menguat 0,03 persen,  dolar Hong Kong naik 0,01 persen,  krown Korsel naik 0,05 persen, peso Filipina menguat 0,19 persen, dan rupee India menguat 0,08 persen. Sementara yen Jepang justru turun 0,10 persen, dolar Singapura anjlok 0,05 persen, yuan China melemah 0,02 persen, ringgit Malaysia turun 0,05 persen, dan baht Thailand melemah 0,25 persen.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan bahwa kurs rupiah menguat karena terdorong efek pernyataan pejabat The Fed tadi malam merespon pernyataan Menteri Keuangan Janet Yellen sehari sebelumnya "Bahwa belum waktunya bagi The Fed untuk menaikkan kembali suku bunga acuan," kata Josua.

Presiden The Fed Chicago, Charles Evans mengatakan dalam pidatonya di Bard College bahwa kemungkinan inflasi yang lebih tinggi masih kecil. Dia mengatakan The Fed masih memiliki cara untuk melangkah sebelum mencapai target inflasi 2 persen.
Pernyataan The Fed ini membuat imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun menjadi 1,58 persen sekarang. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun meningkat menjadi 6,43 persen.

Baca Juga: Rupiah Paling Perkasa di Antara Mata Uang Asia
Rupiah Selasa Pagi Ditransaksikan Melemah Tipis

"Ini akan mendorong dana investor asing masuk ke emerging market seperti Indonesia. Setelah terjadi capital outflow sejak Februari lalu," ujar Josua.

Sebelumnya, pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, mengatakan rupiah menguat hari ini mengikuti sentimen positif pelaku pasar global terhadap aset berisiko. "Sentimen didukung oleh ekspektasi pemulihan ekonomi global. Selain itu, dukungan juga datang dari imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga tertekan di bawah 1,6 persen," ujarnya.

Video Terkait