Peran Perempuan dalam UMKM Dapat Ditingkatkan Lewat Digitalisasi

Berita umkm - Perajin di Desa Sakra sedang merajut tas rajutan pesanan konsumen (Sariagri/Yongki)

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Senin, 8 Maret 2021 | 23:00 WIB

SariAgri - Peran perempuan dalam Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih perlu ditingkatkan, terutama dalam mendukung upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Peningkatan peran perempuan dalam UMKM, salah satunya, dengan digitalisasi,” kata Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Felippa Ann Amanta menyambut Hari Perempuan Internasional di Jakarta, Senin (8/3).

Menurut Felippa, perempuan sebenarnya terwakili dalam jumlah besar di UMKM dan sektor informal. Lebih dari 50 persen UMKM di Indonesia dimiliki oleh perempuan. Namun di masa pandemi seperti sekarang ini, keterwakilan dalam jumlah besar seperti ini juga menjadikan mereka lebih rentan terkena dampak pandemi.

“Pandemi Covid-19 berdampak pada berkurangnya pemasukan usaha mikro karena penurunan transaksi dan kesulitan mendapat bahan baku akibat kebijakan pembatasan sosial yang diberlakukan di banyak wilayah di Indonesia,” paparnya.

Diungkapkan, survei Badan Pusat Statistik atau BPS (2020) di bulan Juli terhadap 34.559 usaha mikro dan kecil menunjukkan bahwa 84,2 persen mengalami penurunan pemasukan. Laporan UN Women (2020) juga menunjukkan tren yang sama terhadap usaha mikro dan kecil yang dimiliki oleh perempuan.

Pandemi memberikan dampak lebih besar kepada perempuan daripada laki-laki. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya waktu yang dihabiskan di rumah dan pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial. Akibatnya, waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan rumah tangga dan merawat anggota keluarga  (unpaid care work) turut meningkat menurut studi Power (2020). Beberapa contoh kegiatan yang intensitasnya meningkat antara lain adalah memasak dan mengawasi anak mengikuti pembelajaran jarak jauh. Hampir semua kegiatan domestik dibebankan kepada perempuan karena peran gender tradisional yang mengakar.

“Akibat meningkatnya intensitas kegiatan domestik yang dikerjakan perempuan, waktu produktif mereka berkurang. Hal ini terjadi di tengah turunnya produktivitas usaha yang justru membutuhkan perhatian lebih. Oleh karena itu, pengusaha mikro perempuan seharusnya diberikan dukungan tambahan dan spesifik dalam menjaga keberlangsungan bisnisnya,” tegas Felippa

Felippa menjelaskan, digitalisasi atau penggunaan internet dalam transaksi jual beli menjadi salah satu cara efektif agar pengusaha mikro tetap dapat menjalankan usahanya. Menurut survei BPS di tahun 2020, empat dari lima pengusaha yang memasarkan produknya secara online mengalami peningkatan penjualan. Fakta ini diperkuat oleh laporan Google, Temasek, dan Bain & Company (2020) yang menyatakan bahwa terdapat peningkatan konsumen digital sebanyak 37 persen akibat pandemi.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengklaim 3,4 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah go digital per Desember 2020. Namun, belum ada keterangan lebih rinci seperti berapa banyak jumlah usaha mikro, usaha yang dimiliki perempuan dan berapa banyak perempuan yang bergabung sejak pandemi dari sebelumnya belum pernah menggunakan sama sekali. Jika dibandingkan dengan jumlah agregat UMKM sebesar 64,19 juta sesuai data Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM), capaian tersebut baru mencapai 5,3 persen.

Baca Juga: Peran Perempuan dalam UMKM Dapat Ditingkatkan Lewat Digitalisasi
Sektor Hortikultura Tumbuh Positif 7,85 Persen di Kuartal ke IV 2020

Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk dapat meningkatkan efektivitas digitalisasi pengusaha mikro perempuan. Pertama, lanjutnya, dengan membuat basis data tunggal UMKM dan memasukkan data berbasis gender. UU Cipta Kerja telah memandatkan pembuatan basis data tersebut pada pasal 88. Pengaturan rincinya telah tertuang dalam rancangan peraturan pemerintah (PP) yang saat ini sedang didiskusikan. Namun, dalam rancangan PP tersebut belum ada mandat pemilahan data berbasis gender. Padahal, data berbasis gender dapat membantu proses penargetan program digitalisasi menjadi lebih tepat sasaran. Hal tersebut juga dapat meningkatkan reliabilitas program melalui penerapan kebijakan berbasis data sesuai studi oleh Head (2010).

"Kedua, adalah perlunya peningkatan dan penguatan program digitalisasi. Program ini juga perlu diprioritaskan untuk pengusaha mikro perempuan, terutama mereka yang belum sama sekali menggunakan platform e-commerce. Pemetaan berguna untuk menghindari tumpang tindih pelatihan dengan target pengusaha yang sama," pungkas Felippa.

Video Terkait