KLHK Catat 2 Kabupaten di Sumsel Ini Gambutnya Rusak Parah

Dok. Kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatera Selatan pada 2019 (BPBD Sumsel)

Editor: Arya Pandora - Senin, 18 Mei 2020 | 20:00 WIB

SariAgri -  Di Indonesia, Sumatera Selatan (Sumsel) merupakan salah satu provinsi yang memiliki luas lahan gambut yang cukup besar. Kendati begitu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat ada dua kabupaten di Bumi Sriwijaya yang lahan gambutnya rusak parah.

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan Lahan (PPIKHL) Wilayah Sumatera KLHK, Ferdian Krisnanto, mengatakan saat ini terdapat gambut dalam Sumsel yang dalam keadaan rusak parah.

“Kondisi itu (gambut rusak) ada di wilayah Tulung Selapan di Kabupaten OKI dan perbatasan Jambi di Kabupaten Musi Banyuasin. Kondisinya tidak berfungsi normal,” ujar dia.

Oleh sebab itu, kata dia, Sumsel kini masih menjadi salah satu provinsi yang rawan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2020 ini. Pihaknya memprediksi kebakaran lahan itu masih akan terjadi di dua wilayah tersebut.

“Tahun lalu, dua kabupaten itu termasuk lokasi kebakaran hutan dan lahan terbesar di Sumsel. Gambut khan seperti spons yang menyerap air, dan gambut itu banyak rusak dan airnya hilang. Sehingga saat terjadi karhutla akan sulit dipadamkan,” ucap dia.

Saat ini, menurut dia, kondisi gambut masih basah lantaran dipengaruhi faktor musim hujan yang masih terjadi. Memang di awal tahun sempat terjadi karhutla di wilayah OKI, hanya saja segera padam dan tidak sempat meluas.

Pihaknya melalui Manggala Agni juga tetap mengerakkan tim untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar melakukan transfer pengetahuan terkait pencegahan karhutla sedini mungkin. Dia menyebut, artinya jangan sampai kebakaran dulu, baru berpikir untuk mensosialisasikannya.

“Saat ini kita tetap bergerak (melakukan sosialisasi) ke tempat-tempat yang rawan. Itu dilakukan terbatas, sekaligus memetakan wilayah rawan. Sehingga, kita siap saat terjadi kebakaran lahan,” tambah dia.

Dirinya menambahkan, dalam waktu dekat Menteri KLHK, Siti Nurbaya akan mengunjungi Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT) guba membahas soal Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sebab, kata dia, TMC harus segera dilakukan sebelum musim kemarau tiba.

“Kalau potensi awan masih ada saat ini, hanya saja tetap untuk menghadapi musim kemarau sekarang harus disiapkan,” kata dia.

Baca Juga: KLHK Catat 2 Kabupaten di Sumsel Ini Gambutnya Rusak Parah
Mengapa Lahan Gambut Sulit Dipadamkan? Ini Jawaban KLHK

Dikatakan dia, awan hujan TMC yang ada akan sangat membantu pemadaman api yang telah membakar gambut. Beberapa langkah merevitalisasi gambut pun sudah dilakukan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG).

“Untuk gambut dalam diperlukan penjagaan tinggi muka air tanah agar selalu basah, ya minimal 40 sentimeter dari permukaan tanah. Kalau air tanah gambut itu kurang, maka kebakaran akan sulit dihindari. Api yang terbakar akan merembet hingga ke dalam akar gambut yang bisa mencapai kedalaman 20 menter lebih,” tutur dia. (Rio P/SariAgri Sumatera Selatan)