Buat Tusuk Satai, Para Lansia di Lampung Cetak Rekor MURI

Para lansia di Lampung cetak rekor MURI. (Sariagri/Iwan K)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 21 November 2022 | 14:15 WIB

Setelah menjalani serangkaian penilaian, ribuan orang lanjut usia atau lansia perajin tusuk satai yang tergabung dalam “Paguyuban Perajin Tusuk Satai Desa Krajan, Kabupaten Lampung Selatan, memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

MURI mencatat, kegiatan yang dilakukan mereka menjadi yang pertama di Indonesia dan juga di dunia. Pemecahan rekor MURI membuat tusuk satai terbanyak itu, melibatkan 1.127 orang lansia dari beberapa desa di Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

“Kami dari perwakilan MURI pun menyaksikan langsung proses pengerjaan tusuk satai oleh ribuan lansia itu. Kami menilai ini sangat layak untuk mendapatkan rekor MURI,” ungkap Yusuf Ngadri, perwakilan pihak MURI kepada awak media, Senin (21/11/2022).

 

Rekor diberikan pada Samadi (40), penggagas Paguyuban Pembuat Tusuk Satai Desa Krajan. Samadi dengan perjuangannya telah memberdayakan para lansia untuk tetap produktif meski di usia senja.

“Namun sata tidak bisa bergerak sendiri. Butuh dukungan moril dan juga finansial. Untuk permodalan saya juga dibantu sebuah perusahaan BUMN. Bantuan pemasaran tusuk satai juga saya dapatkan supaya jangkauannya bisa lebih luas,” papar Samadi juga.

Setelah pasar semakin luas, Samadi berharap nantinya akan semakin banyak lansia yang dapat diberdayakan. Tidak hanya di desa yang ada di Kecamatan Sidomulyo, namun juga kecamatan-kecamatan lain di Lampung Selatan, bahkan di kabupaten lain.

Baca Juga: Buat Tusuk Satai, Para Lansia di Lampung Cetak Rekor MURI
Pameran UMKM di Blora, Wedang Secang Jadi Primadona

Rekor itu juga sangat membanggakan Samadi. MURI menganggap rekor itu bisa sekaligus menjadi inisiator usaha-usaha lain untuk banyak memberdayakan lansia di kegiatan UMKM.

Hingga kini, paguyuban yang didirikan Samadi masih menjadi usaha yang paling banyak memberdayakan lansia. Semua pihak optimis usaha tusuk satai yang sudah berjalan selama bertahun-tahun itu akan terus berjajalan, mengingat persediaan bambu masih berlimpah di Lampung.