Kota di Cina Lakukan Lockdown 36 Hari, Warga Kesulitan Akses Makanan

Ilustrasi suasana lockdown. (Foto: Pixabay)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 13 September 2022 | 17:15 WIB

Sariagri - Kota Yining atau Ghulja, ibu kota Prefektur Otonomi Yili, Xinjiang, Cina menerapkan lockdown atau penguncian selama 36 hari. Tindakan lockdown diterapkan di banyak tempat dengan alasan dari pencegahan epidemi COVID-19.

Kini para warga sulit mendapatkan makanan dan kesulitan mendapatkan akses kesehatan. Bahkan beberapa orang tua dilaporkan gantung diri karena kelaparan. Namun demikian, informasi yang terjadi ditutup-tutupi dan langsung diblokir oleh pihak berwenang.

Wakil direktur CDC dari Komisi Kesehatan Nasional, Wu Liangyou mengatakan Xinjiang dan Hainan telah mencapai hasil yang luar biasa dalam pencegahan dan pengendalian epidemi dan risiko umumnya dapat dikendalikan.

Pihak berwenang Xinjiang mengumumkan bahwa kota Xinjiang menambahkan 1 kasus baru infeksi tanpa gejala lokal dan 23 kasus baru infeksi lokal tanpa gejala, termasuk 2 kasus di Distrik Tianshan, Kota Urumqi dan Yining, Prefektur Ili.

Kota Urumqi mengumumkan pada 10 Agustus bahwa mereka akan menerapkan 'manajemen statis' sementara di enam wilayah perkotaan utama kota. Pihak berwenang meminta semua penduduk di daerah itu, agar tidak keluar rumah kecuali diperlukan. Pada 14 Agustus, pihak berwenang kembali mengumumkan perpanjangan langkah-langkah 'manajemen statis'.

Selain itu, menurut media lokal Xinhuanet, Kota Yining, ibu kota Prefektur Otonomi Yili, meminta warga setempat untuk tidak datang ke Yining kecuali diperlukan, dan tidak meninggalkan Yining kecuali diperlukan. Sejauh ini, keputusan otoritas Yining dianggap oleh masyarakat setempat sebagai awal dari 'penutupan' kota, yang telah di lockdown selama 36 hari.

Salah seorang warga Yining, Zhang Yong mengatakan kepada The Epoch Times bahwa Sejak awal Agustus, Kota Yili telah sepenuhnya diblokir. Area lokal telah dikarantina selama lebih dari 30 hari, dan setiap orang tidak memiliki sumber pendapatan.

Ia juga mengatakan, kini personel pencegahan epidemi datang untuk melakukan tes asam nukleat setiap hari, dari pagi dan sore. Semua orang sangat cemas, terutama beberapa orang tua yang kesepian dan orang sakit, yang tidak dapat mengurus diri mereka sendiri.

Baca Juga: Kota di Cina Lakukan Lockdown 36 Hari, Warga Kesulitan Akses Makanan
Satu Tahun Pemerintahan Taliban: Afghanistan Hadapi Kelaparan Akut

Selain itu, seorang wanita di Kota Yining mengatakan kepada wartawan bahwa pada 8 September sore, dia memposting pesan di Weibo untuk meminta bantuan. Anaknya mengalami demam 40 derajat dan menelepon panggilan darurat setempat dengan nomor 120. Mereka mengatakan bahwa kendaraannya tidak berfungsi. Masyarakat diminta menghubungi hotline 12345. Mereka hanya bisa menerima registrasi saja.

Selanjutnya, orang tak dikenal menghubungi wanita tersebut dan memintanya untuk menghapus postingan tersebut. Dia menjawab bahwa jika masalah perawatan medis anak telah diselesaikan, baru ia akan menghapusnya. Baru pada malam itu anak perempuan itu secara resmi diizinkan pergi ke Rumah Sakit Xinhua kota untuk perawatan.