Mengenal Langya Henipavirus, Virus Baru yang Ditemukan di Cina

Ilustrasi tikus. (pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Minggu, 21 Agustus 2022 | 18:00 WIB

Para ilmuwan menekankan bahwa diperlukan lebih banyak pengawasan terhadap virus baru yang terdeteksi pada lusinan orang di Cina timur. Meski virus baru itu mudah berpindah dari hewan ke manusia, tetapi mungkin tidak akan menyebabkan pandemi baru.

Virus yang dijuluki Langya henipavirus itu menginfeksi hampir tiga lusin petani dan penduduk lainnya. Menurut tim ilmuwan, virus itu mungkin telah menyebar secara langsung atau tidak langsung ke manusia dari tikus.

Patogen tidak menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan demam pada 35 pasien yang tidak saling berhubungan di Provinsi Shandong dan Henan antara tahun 2018 dan 2021.

Kami sangat meremehkan jumlah kasus zoonosis ini di dunia, dan ini (virus Langya) hanyalah puncak gunung es, kata Leo Poon, seorang pakar virus sekaligus profesor di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong, seperti dikutip CNN.

Penelitian ilmiah pertama tentang virus, yang diterbitkan sebagai korespondensi antara tim peneliti Cina dan internasional di New England Journal of Medicine pada pekan lalu, mendapat perhatian global karena meningkatkan kekhawatiran atas wabah penyakit baru. Padahal ratusan ribu kasus baru Covid-19 masih terjadi di seluruh dunia setiap hari, hampir tiga tahun sejak virus corona pertama kali terdeteksi di Cina.

Namun, para peneliti mengatakan tidak ada bukti bahwa virus Langya menyebar dari manusia ke manusia atau menyebabkan wabah lokal dari kasus-kasus terkait. Studi lebih lanjut pada subset pasien yang lebih besar diperlukan untuk mengesampingkan penyebaran dari manusia ke manusia.

 

Melacak Virus Baru

Petunjuk pertama tentang keberadaan virus baru muncul ketika seorang petani berusia 53 tahun mencari perawatan di sebuah rumah sakit di Kota Qingdao Provinsi Shandong pada Desember 2018 dengan gejala termasuk demam, sakit kepala, batuk dan mual.

Karena pasien menunjukkan bahwa dia melakukan kontak dengan hewan dalam sebulan terakhir, dia terdaftar dalam pemeriksaan tambahan yang dilakukan di tiga rumah sakit di Cina timur yang berfokus pada mengidentifikasi penyakit zoonosis.

Ketika sampel uji pasien itu diperiksa, para ilmuwan menemukan sesuatu yang tidak terduga -- virus yang belum pernah terlihat sebelumnya, terkait dengan virus Hendra dan Nipah, patogen yang sangat fatal dari famili yang biasanya tidak dikenal karena mudah menyebar dari manusia ke manusia.

Selama 32 bulan berikutnya, para peneliti di tiga rumah sakit melakukan skrining virus itu pada pasien dengan gejala yang sama. Dan akhirnya, mereka mendeteksinya pada 35 orang yang memiliki berbagai gejala termasuk batuk, kelelahan, sakit kepala, mual, dan demam.

Sembilan dari pasien itu juga terinfeksi virus yang diketahui, seperti influenza, sehingga sumber gejalanya tidak jelas. Akan tetapi, para peneliti yakin gejala pada 26 pasien lainnya mungkin disebabkan oleh virus henipa baru.

Beberapa pasien menunjukkan gejala parah seperti pneumonia atau kelainan kondisi trombosit darah. Namun, gejala mereka jauh dari yang terlihat pada pasien Hendra atau Nipah, dan tidak ada seorang pun yang meninggal atau dirawat di ICU. Setelah mereka semua pulih, mereka tidak dipantau untuk masalah jangka panjang.

Para peneliti yang berbasis di Beijing dan pejabat pengendalian penyakit Qingdao mulai bekerja untuk dapat mengungkap jenis penyakit yang menginfeksi para pasien. Mereka menguji hewan peliharaan di mana pasien tinggal untuk mencari jejak infeksi virus di masa lalu, dan menemukan sejumlah kecil kambing dan anjing yang mungkin terinfeksi virus sebelumnya.

Akan tetapi penemuan nyata datang ketika mereka menguji sampel yang diambil dari hewan liar kecil yang ditangkap dalam perangkap -- dan menemukan 71 infeksi di dua spesies tikus, membuat para ilmuwan menyarankan mamalia kecil seperti hewan pengerat itu bisa menjadi tempat virus bersirkulasi secara alami.

Hal yang masih belum jelas adalah bagaimana virus itu masuk ke manusia. Studi lebih lanjut untuk skrining Langya henipavirus akan terus dilakukan di wilayah Cina dan sekitarnyaKomisi Kesehatan Nasional Cina tidak segera menanggapi permintaan komentar dari CNN  tentang apakah pemantauan infeksi virus baru sedang berlangsung.

 

Pengurangan Risiko

Secara global, 70% dari penyakit menular yang muncul diperkirakan telah menular ke manusia melalui kontak dengan hewan. Menurut para ilmuwan, fenomena itu cepat terjadi seiring dengan pertumbuhan populasi manusia yang meluas ke habitat satwa liar.

Cina telah mengalami wabah besar akibat virus yang muncul dalam dua dekade terakhir, termasuk SARS pada 2002—2003 dan Covid-19. Keduanya pertama kali terdeteksi di negara itu dan berasal dari virus yang diduga berasal dari kelelawar.

Baca Juga: Mengenal Langya Henipavirus, Virus Baru yang Ditemukan di Cina
Hati-hati! Varian Virus Corona Bisa 'Kawin' hingga Hasilkan Mutasi Baru

Dampak buruk dari kedua penyakit tersebut menunjukkan pentingnya mengidentifikasi kasus virus baru dengan cepat, dan berbagi informasi tentang potensi risiko.

Para ilmuwan yang tidak terlibat dalam penelitian baru ini setuju bahwa lebih banyak pekerjaan diperlukan untuk memahami virus Langya dan mengkonfirmasi temuan terbaru. Mereka menekankan pentingnya melacak virus yang mungkin menyebar dari hewan ke manusia.