Prancis Buat Gugus Tugas Hadapi Krisis Air Dampak dari Panas Ekstrem

Ilustrasi suhu panas. (Foto: Pixabay)

Editor: Putri - Jumat, 5 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Sariagri - Pemerintah Prancis mengatakan bahwa mereka mengaktifkan gugus tugas sebagai upaya mengurangi dampak kekeringan yang diperburuk oleh gelombang panas ekstrem ketiga pada musim panas.

Mengutip AFP, Jumat (5/8/2022), pembatasan penggunaan air diperintahkan di hampir semua 96 departemen Prancis. Dengan 62 di tingkat siaga tertinggi dan badan cuaca Meteo-Prancis memperkirakan sedikit bantuan untuk beberapa minggu mendatang.

"Kekeringan ini adalah yang terburuk yang pernah tercatat di negara kita situasinya bisa bertahan selama dua minggu ke depan atau menjadi lebih buruk," kata kantor Perdana Menteri Elisabeth Borne dalam sebuah pernyataan.

Kondisi kering adalah "bencana" bagi petani di seluruh negeri dan ekosistem dan keanekaragaman hayati, tambahnya. Kenaikan suhu juga meningkatkan penguapan danau dan sungai ketika kebutuhan irigasi meningkat menjelang panen musim gugur.

Penyedia listrik juga harus mengurangi pasokan di beberapa pembangkit nuklir karena suhu sungai terlalu tinggi. Artinya air yang digunakan untuk mendinginkan reaktor tidak dapat dengan aman dikembalikan ke saluran air alami.

Menghadapi situasi bersejarah ini, Perdana Menteri Prancis memutuskan untuk mengaktifkan gugus tugas krisis antar-departemen dan mendesak semua orang untuk melestarikan sumber daya air.

Namun pernyataan Perdana Menteri tidak membahas kritik yang berkembang atas pengecualian yang diberikan untuk lapangan golf. Lapangan golf sejauh ini masih diizinkan untuk terus menyirami tanaman hijau bahkan dalam keadaan krisis saat ini.

Baca Juga: Prancis Buat Gugus Tugas Hadapi Krisis Air Dampak dari Panas Ekstrem
Warga Tokyo Diminta Tetap Hemat Listrik meski Gelombang Panas Meningkat

Beberapa negara Eropa lainnya juga mengeluarkan peringatan kekeringan parah. Uni Eropa mendesak anggotanya untuk menggunakan kembali air limbah perkotaan yang diolah untuk pertanian kering di benua itu.

Krisis memicu kekhawatiran bahwa hasil biji-bijian dan tanaman pangan lainnya terdampak. Harga pangan sudah naik sebagian yang disebabkan oleh invasi berkelanjutan Rusia ke Ukraina.

Video Terkait