Portugal Laporkan Lebih dari 1.000 Kematian Akibat Gelombang Panas

Ilustrasi suhu panas. (Foto: Pixabay)

Editor: Putri - Rabu, 20 Juli 2022 | 17:25 WIB

Sariagri - Portugal melaporkan lebih dari 1.000 kematian akibat gelombang panas. Kepala kesehatan negara tersebut mengatakan bahwa Portugal harus bersiap untuk mengatasi dampak perubahan iklim karena suhu terus meningkat.

"Portugal adalah salah satu wilayah di dunia yang dapat (lebih) terkena dampak panas ekstrem," kata Graça Freitas, Kepala Direktorat Jenderal Kesehatan Portugal (DGS).

"Kami harus lebih dan lebih siap untuk periode suhu tinggi," tambahnya.

Mengutip Reuters, Rabu (20/7/2022), suhu di seluruh Portugal yang dilanda kekeringan mencapai 40 derajat Celsius. Meskipun suhu menurun dalam beberapa hari terakhir, Freitas mengatakan suhu saat ini tetap di atas level normal untuk tahun ini.

DGS sebelumnya melaporkan 238 kematian akibat gelombang panas dari 7 Juli hingga 13 Juli. Tetapi Freitas mengatakan jumlah kematian kini meningkat menjadi 1.063 untuk periode hingga 18 Juli.

Suhu tinggi, kekeringan yang sedang berlangsung dan pengelolaan hutan yang buruk diketahui sebagai penyebab atas beberapa kebakaran hutan yang melanda Portugal.

Petugas pemadam kebakaran juga sedang memerangi kobaran api di negara-negara Eropa lainnya, termasuk Spanyol.

Carlos Antunes, seorang peneliti di fakultas sains Universitas Lisbon, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa data menunjukkan mereka yang paling mungkin meninggal karena gelombang panas adalah orang tua.

Baca Juga: Portugal Laporkan Lebih dari 1.000 Kematian Akibat Gelombang Panas
Ketika Cuaca Panas Melanda Dunia, Mulai dari Jepang hingga Eropa

Dia mengatakan jumlah kematian di masa depan tergantung pada tindakan pencegahan yang diambil orang untuk melindungi diri sendiri, bagaimana perawatan rumah merawat penghuninya dan adaptasi infrastruktur.

“Dengan adanya perubahan iklim, diperkirakan angka kematian akan semakin meningkat dan oleh karena itu kita harus mengambil langkah-langkah di tingkat kesehatan masyarakat untuk meminimalkan dampaknya,” tukas Antunes.

Video Terkait