Tak Banyak yang Tahu. Ini Makna dan Filosofi Sakral Sesajen bagi Umat Hindu

Ilustrasi sesajen umat Hindu. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 15 Juli 2022 | 18:00 WIB

Ribuan umat hindu dari seluruh daerah di pulau Jawa dan Bali melakukan ritual piodalan di pura Mandhara Giri Semeru Agung, Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.   

Upacara piodalan ini merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahunnya, sebagai bentuk persembahan pada alam semesta secara umum dan khususnya untuk menyucikan kembali semesta terutama di kawasan gunung semeru yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Wakil Gubernur Bali, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati yang juga merupakan raja ubud di pulau dewata mengatakan ritual piodalan merupakan persembahan pada sang pencipta semesta, ida sang hyang widhi wasa.

“Selain ritual persembahan pada ida sang hyang widhi wasa, acara ini sekaligus bentuk perayaan hari jadi tempat suci pura mandhara giri semeru agung yang dituakan oleh umat hindu di jawa-bali,” terang Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati kepada Sariagri, Jumat (15/7/2022).  

Tjok Oka berharap kegiatan ini mampu menciptakan pola harmonisasi kehidupan baru bagi umat hindu bali, khususnya dengan tanah nenek moyang mereka di lereng gunung semeru.

“Keistimewaan upacara kali ini bertepatan dengan purnama kasa dan juga buda kliwon pahang yang dipercaya sebagai hari baik menurut kalender bali. Karenanya ritual ini kami mengorbankan 1 ekor kerbau dan 2 tahun lagi tepatnya 2024 nanti ada 13 ekor kerbau,” bebernya dengan senyum lebar.

Sementara disinggung makna atau arti dari sesajen, Tjok Oka menjelaskan umat hindu mengistilahkannya dengan nama Canang sari yang berasal dari kata Can artinya indah dan nang berarti maksud atau tujuan. Sedangkan sari diartikan sebagai inti/sumber.

“Jadi, bisa disimpulkan makna canang atau sesajen bagi masyarakat hindu bali adalah inti maksud persembahan dari asal manusia kepada sang hyang widhi wasa,” ucapnya.

Di sisi lain, lanjutnya esensi dari canang/sesajen terletak pada rumit dan butuh waktu lama dalam pembuatannya.

“Disitulah bentuk pengorbanan yang sesungguhnya. Meskipun jaman sekarang semua sudah serba instan. Pedagang canang atau sesajen apapun ada banyak dan mudah ditemui dimana-mana. Tinggal beli aja dipasar atau pedagang pinggir jalan. Meskipun begitu, kemampuan membikin sendiri wajib dimiliki perempuan bali karena canang/sesajen ini adalah sarana sembahyang yang sudah sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari,” bebernya. 

Ia melanjutkan sesajen sebetulnya hanya sarana untuk memohon kekuatan berupa pengetahuan dan kebenaran kehadapan sang hyang widhi wasa.

“Jadi, bahasa sederhananya adalah bentuk permohonan kekuatan berupa pengetahuan dan kebenaran terhadap tuhan. Kurang lebih seperti itu,” tuturnya.

Sedangkan simbol canang sari, kata Tjok Oka terbagi menjadi beberapa bagian, yang setiap bagiannya masing-masing memiliki makna filosofis tersendiri. Bagian itu adalah sampian uras, daun, porosan, bunga, dan uang (sesari).

Sampian uras bahan dasarnya janur muda sama kayak bahan dasar untuk bikin ketupat. Fungsinya sebagai tatakan atau alas yang diatasnya nanti akan diisi dengan bahan canang sari yang lainnya.

“Nah, sampain uras ini bentuknya biasanya bundar atau enggak persegi, itu bukan sembarang bentuk, adanya maknanya. Maknanya adalah penggambaran dari matahari sebagai roda kehidupan yang menunjang kehidupan manusia di dunia,” rincinya. 

Berikutnya yakni daun yang diletakan di lapisan pertama setelah sampai uras. Daun memiliki makna yaitu tumbuhnya pikiran yang hening dan suci.

“Daun yang dipakai sebagai dasar canang itu dari daun janur. Simbol kekuatan arda candra yaitu manunggalnya sabda, bayu, idep atau istilahnya nafas, suara dan pikiran sebagai dasar sebuah persembahan,” kata Tjok Oka.

Berikutnya bagian ketiga, adalah poroson berupa pinang, sirih dan kapur.  Porosan ini memiliki penggambaran terhadap tiga dewa manifestasi dari sanghyang widhi wasa, yaitu sanghyang trimurti yang melambangkan pemujaan kepada dewa brahma sebagai pencipta, sirih melambangkan pemujaan kepada dewa wisnu sebagai pemelihara, dan kapur melambangkan pemujaan kepada dewa siwa sebagai pelebur.

“Jadi makna porosan yaitu memohon tuntunan dan kekuatan dari tuhan yang maha esa dalam manefestasinya sebagai dewa tri murti agar dapat menciptakan sesuatu yang baik, memelihara sesuatu yang baik, dan meniadakan sesuatu yang bernilai negatif. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan semakin baik,” terangnya panjang lebar.

Bagian selanjutnya atau yang keempat yakni bunga yang digunakan untuk canang sari ada lima warna, antara lain putih, merah, kuning, hitam atau biru, hijau atau ungu dan kembang rampai yang berwarna hijau.

Penyusunan bunga ini, rincinya, diurutkan dan setiap warna dari bunga tersebut memiliki makna masing-masing.

Bunga putih pada arah timur sebagai simbol kekuatan dewa iswara, bunga merah disusun pada arah selatan sebagai simbol kekuatan dewa brahma, bunga kuning disusun pada arah barat sebagai simbol kekeuatan dewa mahadewa, bunga hitam karena sulit ditemukan dapat diganti menggunakan bunga berwarna biru, hijau atau ungu disusun pada arah utara sebagai simbol kekuatan dewa wisnu, dan kembang rampai di letakan paling atas dari semua bunga yang diatur yang melambangkan kebijaksanaan dan simbol kekuatan dewa panca dewata.

“Bunga disini melambangkan keikhlasan dan keindahan. Bunga juga harum baunya, ini juga sebagai wujud niat dari seseorang hindu yang beribadah,” ujarnya. 

Bagian paling akhir atau kelima ialah uang atau sesari merupakan lambang saripati dari karma atau pekerjaan.

Uang juga berfungsi sebagai penebus segala kekurangan yang ada maksudnya adalah apabila terdapat kekurangan dari segi kelengkapan serta penyusunan dalam canang sari uang ini berfungsi sebagai penebus segala kekurangan tersebut

“selain lima bagian sesajen itu, canang sari juga bisa berupa komponen daun, bunga, tirta yang diperciki diatas canang dinamai air suci dan buah berupa irisan pisang serta tebu,” jelasnya.

Tjok Oka menegaskan sesajen yang diletakkan di altar pura yang tinggi untuk kepentingan ibadah seperti yang di Lumajang dimaksudkan untuk menghormati dewa dan arwah para leluhur.

“Sedangkan bila canang diletakkan di bawah dan biasanya berisi daging mentah kerbau, bertujuan untuk menjinakkan gunung semeru agar tidak murka atau menimbulkan bencana bagi umat Hindu disini,” ungkapnya.

Masyarakat agama Hindu, yang melakukan ritual seperti itu meyakini, bahwa makanan sesajen yang mereka berikan merupakan bentuk rasa syukur dan ungkapan terima kasih atau bisa juga sebagai sesembahan untuk memohon agar dijauhkan dari bahaya yang biasanya ditujukkan kepada makhluk ghaib penguasa tempat tersebut.

“Diawali dengan doa yang disertai sesajen bunga untuk dipersembahkan pada dewa-dewi bali. Sesajen mempunyai nilai yang sakral dalam memperoleh peruntungan, sekaligus juga menampik kemalangan,” tandasnya.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu. Ini Makna dan Filosofi Sakral Sesajen bagi Umat Hindu
5 Macam Jenis Daging Wagyu, Kamu Suka yang Mana?

Sedangkan makna kain kotak-kotak yang biasa disebut sebagai saput poleng dan menjadi bagian dari adat kehidupan masyarakat Hindu Bali terutama di pura, memiliki makna filosofis sebagai refleksi dari kehidupan masyarakat baik dan buruk, yang dalam agama hindu disebut rwa bhineda.

“Dua sifat yang bertolak belakang, yakni hitam-putih, atas-bawah, baik-buruk, dan suka-duka.

Sebagai salah satu bentuk kepercayaan, sesajen diberikan untuk mencegah terjadinya celaka sekaligus persembahan untuk sang hyang sangkara yang merupakan perwujudan tuhan sebagai dewa kemakmuran dan keselamatan bagi tumbuh-tumbuhan,” tutupnya. 

Video Terkait