Mengenal Tradisi Jawa, Angon Putu yang Masih Lestari

Mbah Lebrok mengajak jalan-jalan ke pasar Legi Ponorogo. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 13 Juli 2022 | 19:35 WIB

Sariagri - Nama mbah Lebrok, perempuan lanjut usia (lansia) asal Kelurahan paju, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mendadak viral dan menjadi perbincangan publik. Hal ini, menyusul aksi angon putu (menggembala cucu) yang dilakukan nenek berusia 100 tahun tersebut pada hari minggu lalu beredar luas di jagad maya.

Bersama seluruh keluarga besar keturunannya, mbah Lebrok mengajak jalan-jalan ke pasar Legi Ponorogo.  Ia menyebut tradisi angon putu tetap dipertahankan dan dilestarikannya sebagai warisan budaya warga keturunan jawa. Dari sembilan anaknya, mbah Lebrok dikaruniai 26 cucu dan 20 cicit.

“Tradisi angon putu sudah saya lakukan yang ketiga kalinya. Tahun ini, tepat saya berusia 100 tahun dan anak pertama saya umurnya 70 tahun. Bersamaan itu pula cucu pertama saya usianya 56 tahun. Total cucu dan cicit ada 46 orang,” terang mbah Lebrok kepada Sariagri, Rabu (13/7/2022).

Meski telah berusia 1 abad, mbah Lebrok masih terlihat sehat dan bugar. Pandangan dan pendengaran serta suaranya masih tersampaikan dengan jelas.

Hanya saja ia mengaku agak sulit jika diminta berjalan jauh, karena kakinya mudah lelah. Karenanya saat melakukan aksi angon putu, ia terpaksa dibantu kursi roda.

“Sambil bawa pecut layaknya angon ternak, saya dibantu duduk didorong di kursi roda. Seluruh anak, cucu hingga cicit saya giring ke pasar legi untuk merayakan umur panjang sambil saya traktir beli jajan,” lanjutnya.

Dalam mentraktir cucu dan cicit, ia membebaskan untuk mereka membeli aneka jajanan yang ada di pasar.

“Semua anak, cucu dan cicit kebagian uang jajan. Mereka saya bebaskan untuk memilih jajanan yang disukai. Ada es krim, kue bolu, martabak dan sebagainya. Trus saya yang membayarnya,” ungkap mbah Lebrok dengan tertawa lebar.

Sementara itu, salah seorang anak mbah Lebrok, Dirman mengatakan tradisi angon putu ini sudah lama ditinggalkan masyarakat, dan hanya segelintir orang saja yang masih mempertahankannya.

“Angon putu sendiri bisa diartikan merawat atau mengasuh cucu. Tradisi ini tetap dilestarikan sebagai budaya jawa. Namun sekarang sudah nyaris terkikis dan hanya sedikit dari orang jawa yang melestarikannya,” kata Dirman.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Jawa, Angon Putu yang Masih Lestari
Apes! 2 Pedagang Buah Tertipu dengan Bule, Modusnya Tukar Uang

Ia menerangkan dulu kegiatan ini dilakukan dengan cara yang sama. Hanya bedanya, seluruh cucu dan cicit diajak naik dokar berkeliling kota lalu sampai di rumah diajak makan-makan bersama. Namun pakem itu sedikit berubah yakni keluar jalan-jalan ke pasar dan ditraktir jajanan.

“Bedanya ada naik dokar dan makan di rumah bersama. Kalau yang sekarang ke pasar dan jajan bersama. Namun demikian tradisi semacam dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur atas karunia umur panjang dan kesehatan yang diberikan Tuhan sehingga bisa berkumpul dengan anak cucu dan cicit,” pungkasnya. 

Video Terkait